Terapi Fisik
Sebagian terbesar penderita
Parkinson akan merasa efek baik dari terapi fisik. Pasien akan termotifasi
sehingga terapi ini bisa dilakukan di rumah, dengan diberikan petunjuk atau
latihan contoh diklinik terapi fisik. Program terapi fisik pada penyakit
Parkinson merupakan program jangka panjang dan jenis terapi disesuaikan dengan
perkembangan atau perburukan penyakit, misalnya perubahan pada rigiditas,
tremor dan hambatan lainnya.Latihan fisik yang teratur, termasuk yoga, taichi,
ataupun tari dapat bermanfaat dalam menjaga dan meningkatkan mobilitas,
fleksibilitas, keseimbangan, dan range of motion. Latihan dasar selalu
dianjurkan, seperti membawa tas, memakai dasi, mengunyah keras, dan memindahkan
makanan di dalam mulut.
Terapi Suara
Perawatan yang paling besar untuk
kekacauan suara yang diakibatkan oleh penyakit Parkinson adalah dengan Lee
Silverman Voice Treatment ( LSVT ). LSVT fokus untuk meningkatkan volume suara.
Suatu studi menemukan bahwa alat elektronik yang menyediakan umpan balik indera
pendengar atau frequency auditory feedback (FAF) untuk meningkatkan
kejernihan suara.
Terapi gen
Pada saat sekarang ini, penyelidikan
telah dilakukan hingga tahap terapi gen yang melibatkan penggunaan virus yang
tidak berbahaya yang dikirim ke bagian otak yang disebut subthalamic nucleus
(STN). Gen yang digunakan memerintahkan untuk mempoduksi sebuah enzim yang
disebut glutamic acid decarboxylase (GAD) yang mempercepat produksi
neurotransmitter (GABA). GABA bertindak sebagai penghambat langsung sel yang
terlalu aktif di STN. Terapi lain yang sedang dikembangkan adalah GDNF. Infus
GDNF (glial-derived neurotrophic factor) pada ganglia basal dengan menggunakan
implant kathether melalui operasi. Dengan berbagai reaksi biokimia, GDNF akan
merangsang pembentukan L-dopa.
Pencangkokan syaraf
Cangkok sel stem secara genetik
untuk memproduksi dopamine atau sel stem yang berubah menjadi sel memproduksi
dopamine telah mulai dilakukan. Percobaan pertama yang dilakukan adalah
randomized double-blind sham-placebo dengan pencangkokan dopaminergik yang
gagal menunjukkan peningkatan mutu hidup untuk pasien di bawah umur.
Operasi
Operasi untuk penderita Parkinson
jarang dilakukan sejak ditemukannya levodopa. Operasi dilakukan pada pasien
dengan Parkinson yang sudah parah di mana terapi dengan obat tidak mencukupi. Operasi
dilakukan thalatotomi dan stimulasi thalamik.
Terapi neuroprotektif
Terapi neuroprotektif dapat
melindungi neuron dari kematian sel yang diinduksi progresifitas penyakit. Yang
sedang dikembangkan sebagai agen neuroprotektif adalah apoptotic drugs (CEP
1347 and CTCT346), lazaroids, bioenergetics, antiglutamatergic agents, dan
dopamine receptors. Adapun yang sering digunakan di klinik adalah monoamine
oxidase inhibitors (selegiline and rasagiline), dopamine agonis, dan complek I
mitochondrial fortifier coenzyme Q10.
Nutrisi
Beberapa nutrient telah diuji dalam
studi klinik klinik untuk kemudian digunakan secara luas untuk mengobati pasien
Parkinson. Sebagai contoh, L- Tyrosin yang merupakan suatu perkusor L-dopa
mennjukkan efektifitas sekitar 70 % dalam mengurangi gejala penyakit ini. Zat
besi (Fe), suatu kofaktor penting dalam biosintesis L-dopa mengurangi 10%- 60%
gejala pada penelitian terhadap 110 pasien.THFA, NADH, dan piridoxin yang
merupakan koenzim dan perkusor koenzim dalam biosintesis dopamine menunjukkan
efektifitas yang lebih rendah dibanding L-Tyrosin dan zat besi. Vitamin C dan
vitamin E dosis tinggi secara teori dapat mengurangi kerusakan sel yang terjadi
pada pasien Parkinson. Kedua vitamin tersebut diperlukan dalam aktifitas enzim
superoxide dismutase dan katalase untuk menetralkan anion superoxide yang dapat
merusak sel. Belum lama ini, Koenzim Q10 juga telah digunakan dengan cara
kerja yang mirip dengan vitamin A dan E. MitoQ adalah suatu zat sintesis baru
yang memiliki struktur dan fungsi mirip dengan koenzim Q10.
Qigong
Terdapat dua penelitian mengenai
qigong pada penyakit Parkinson. Dalam percobaan di Bonn, studi terhadap 56
pasien didapatkan peningkatan gejala motorik dan non-motorik di antara pasien
yang melakukan latihan qigong terstruktur 1 kalin seminggu selama 8 minggu.
Penulis berspekulasi bahwa gambaran aliran energy yang membantu peningkatan
dalam movement pasien.Namun demikian studi kedua menunjukkan qigong tak efektif
pada penyakit Parkinson. Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan randomized
cross-over trial untuk membandingkan latihan aerobic dengan qigong pada
penyakit Parkinson tahap lanjut.dua kelompok pasien PD dinilai, kemudian
melakukan 20 sesi baik latihan aeronik maupun qigong, dinilai lagi, kemudian
setelah selang 2 bulan, ditukar dengan 20 sesi lainnya, kemudian dinilai lagi.
Penulis mendapatkan peningkatan kemampuan motorikdan fungsi kardiorespirator
setelah mengikuti latihan aerobic, tetapi tak mendapatkan manfaat setelah
mengikuti qigong. Penulis juga menyimpulkan latihan aerobik tak memiliki
manfaat terhadap kualitas hidup pasien.
Botox
Baru-baru ini, injeksi Botox sedang
diteliti sebagai salah satu pengobatan non-FDA di masa mendatang.