Showing posts with label askep komunitas. Show all posts
Showing posts with label askep komunitas. Show all posts

Askep Keluarga Dengan Usia Prasekolah

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KELUARGA DENGAN ANAK USIA PRASEKOLAH

Tujuan Instruksional Umum :
Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan keluarga sesuai dengan masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga dengan anak usia pra sekolah.

Tujuan Instruksional khusus :

Mahasiswa mampu :
  1. Menyebutkan definisi keluarga dengan anak usia pra sekolah.
  2. Menjelaskan tugas-tugas perkembangan keluarga dengan anak usia pra sekolah.
  3. Menjelaskan masalah-masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga dengan anak usia pra sekolah.
  4. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan keluarga yang mungkin muncul pada keluarga dengan anak usia pra sekolah.
  5. Membuat dokumentasi asuhan keperawatan pada keluarga dengan anak usia prasekoah.
  6. Menjelaskan peran perawat pada keluarga dengan anak usia pra sekolah.

Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2 ½ tahun dan berakhir ketika anak berusia 5 tahun. Sekarang, keluarga mungkin terdiri dari tiga hingga lima orang, dengan posisi suami-ayah, istri-ibu, anak laki-laki-saudara, anak perempuan-saudari. Keluarga lebih menjadi majemuk dan berbeda (Duvall dan Miller, 1985).

Kehidupan keluarga selama tahap ini penting dan menuntut bagi orangtua. Kedua orangtua banyak menggunakan waktu mereka, karena kemungkinan besar ibu bekerja, baik bekerja paruh waktu atau bekerja penuh. Namun, menyadari bahwa orangtua adalah “arsitek keluarga”, merancang dan mengarahkan perkembangan keluarga (Satir, 1983), adalah penting bagi mereka untuk memperkokoh kemitraan mereka secara singkat, agar perkawinan mereka tetap hidup dan lestari.
Anak-anak usia prasekolah harus banyak belajar pada tahap ini, khususnya dalam hal kemadirian. Mereka harus mencapai otonomi yang cukup dan mampu memenuhi kebutuhan sendiri agar dapat menangani diri mereka sendiri tanpa campur tangan orangtua mereka dimana saja. Pengalaman di kelompok bermain, taman kanak-kanak, Project Head Start, pusat perawatan sehari, atau program-program sama lainnya merupakan cara yang baik untuk membantu perkembangan semacam ini. Program-program prasekolah yang terstruktur sangat bermanfaat dalam membantu orangtua dengan anak usia prasekolah yang berasal dari dalam kota dan berpendapatan rendah. Peningkatan yang tajam dalam IQ dan keterampilan sosial telah dilaporkan terjadi setelah anak menyelesaikan sekolah taman kanak-kanak selama 2 tahun (Kraft et al, 1968).

Banyak sekali keluarga dengan orangtua tunggal berada dalam tahap siklus kehidupan ini. Dalam tahun 1984, 50 persen keluarga kulit hitam dan 15 persen keluarga kulit putih di Amerika Serikat dipimpin oleh satu orangtua, dan 88 persen dari keluarga ini dikepalai oleh ibu (Nortan and Glick, 1986). Di kalangan keluarga dengan orangtua tunggal, ketegangan yang timbul dari peran mengasuh anak untuk anak usia prasekolah, ditambah lagi dengan peran-peran lain adalah besar. Pusat-pusat perawatan sehari bagi bayi dan anak usia prasekolah dengan kualitas yang layak dan baik sulit ditemukan jika ditempatkan dikebanyakan kominitas. Ibu-ibu yang bekerja dan ibu-ibu yang masih remaja secara khusus memerlukan fasilitas-fasilitas dan program-program perawatan anak yang lebih baik (Adams dan Adams, 1990).

A. Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga.
Kini, keluarga tumbuh baik dalam jumlah maupun kompleksitas. Perlunya anak-anak usia prasekolah dan anak kecil lainnya untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya, dan kebutuhan orangtua untuk memiliki privasi mereka sendiri menjadikan perumahan dan ruang yang adekuat sebagai masalah utama. Peralatan dan fasilitas-fasilitas juga perlu bersifat melindungi anak-anak, karena pada tahap ini kecelakaan menjadi penyebab utama kematian dan cacat. Mengkaji keamanan rumah merupakan hal yang penting bagi perawat kesehatan komunitas dan penyuluhan kesehatan perlu dimasukkan sehingga orangtua dapat mengetahui resiko yang ada dan cara-cara menegah kecelakaan (Tabel 6).


Tabel 1. Tahap III Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan anak usia pra sekolah dan Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga yang Bersamaan.

Tahap Siklus Kehidupan Keluarga

Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga
Keluarga dengan anak usia Prasekolah.
1.      Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah, ruang bermain, privasi, keamanan.
2.      Mensosialisasikan anak.
3.      Mengintegrasi anak yang baru sementara tetap memenuhi kebutuhan anak-anak yang lain.
4.      Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga (hubungan perkawinan dan hubungan orangtua dan anak) dan di luar keluarga (keluarga besar dan komunitas).
Diadaptasi dari Carter dam McGoldrick (1988) ; Duvall dan Miller (1985)

Karena daya tahan spesifik terhadap banyak bakteri dan penyakit virus dan paparan yang meningkat, anak-anak usia prasekolah sering menderita sakit dengan satu penyakit infeksi minor secara bergantian. Penyakit infeksi sering terjadi bolak-balik dalam keluarga. Sering ke dokter, merawat anak-anak yang sakit, kembali ke rumah untuk menjemput anak sakit dari taman kanak-kanak merupakan krisis mingguan. Jadi kontak anak dengan penyakit infeksi dan menular dan kerentanan umum mereka terhadap penyakit merupakan masalah-masalah kesehatan utama.

Kecelakaan, jatuh, luka bakar dan laserasi juga cukup sering terjadi. Kejadian-kejadian ini lebih sering ditemukan dalam keluarga besar, keluarga di mana pengasuh dewasa tidak ada (orangtua sering tidak di rumah), dan keluarga dengan pendapatan rendah. Keamanan lingkungan dan pengawasan anak yang adekuat merupakan kunci untuk mengurangi kecelakaan.

Suami-ayah menerima lebih banyak keterlibatan dalam tanggungjawab rumah tangga selama tahap perkembangan keluarga ini daripada tahap lain, persentase terbesar dalam tahap ini digunakan untuk aktifitas perawatan anak. Keterlibatan ayah dalam perawatan anak saat ini benar-benar penting, karena hubungan ini dengan anak usia prasekolah dapat membantu anak mengindentifikasi jenis kelaminnya. Khusus bagi anak laki-laki dalam usia 5 tahun, penting sekali bagi mereka untuk bergaul secara rapat dengan lingkungan terbatas yang kuat, ayah yang hanya atau pengganti ayah sehingga identitas peran laki-laki dapat terbentuk (Walters, 1976).

Peran yang lebih matang juga diterima oleh anak-anak usia prasekolah, yang secara perlahan-lahan menerima lebih banyak tanggungjawab perawatan dirinya sendiri, plus membantu ibu atau ayah dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Di sini bukan produktifitas anak yang penting, melainkan proses belajar  yang berlangsung.

Berlawanan dengan harapan, penelitian membuktikan bahwa kelahiran anak kedua dalam keluarga memiliki efek yang bahkan lebih merusak hubungan perkawinan dari pada kelahiran anak pertama. Feldman (1961) melaporkan bahwa peran orangtua membuat peran-peran perkawinan lebih sulit, seperti terungkap dalam observasi berikut ini : pasangan suami istri masing-masing merasakan perubahan kepribadian yang negatif ; mereka kurang puas dengan keadaan di rumah, terdapat banyak interaksi yang berorientasi pada tugas, pembicaraan pribadi lebih sedikit dan pembicaraan yang berpusat pada anak lebih banyak, kehangatan yang diberikan kepada anak lebih banyak dari pada yang diberikan satu sama lain, dan tingkat kepuasan hubungan seksual lebih rendah (Feldman, 1969).

Penelitian yang cukup terkenal ini paralel dengan laporan dan observasi para konselor keluarga bahwa hubungan perkawinan sering mengalami keguncangan dalam tahap siklus ini. Sebenarnya, banyak sekali perceraian yang terjadi dalam tahun-tahun seperti ini karena ikatan perkawinan yang lemah atau tidak memuaskan. Privasi dan waktu bersama merupakan kebutuhan yang utama. Konseling perkawinan dan kelompok-kelompok pertemuan perkawinan merupakan sumber-sumber yang penting dikalangan kelas menengah. Akan tetapi keluarga tanpa sumber-sumber ekonomi, hanya memiliki bantuan yang terbatas untuk memperkokoh upaya penyelamatan perkawinan. Terdapat trend bagi para pastur dan pendeta untuk menjadi terlatih sebagai konselor perkawinan dan konselor keluarga yang tidak bisa mengupayakan terapi pribadi.

Tugas utama dari keluarga adalah mensosialisasikan anak. Anak-anak usia prasekolah mengembangkan sikap diri sendiri (konsep diri) dan dapat secara cepat belajar mengekspresikan diri mereka, seperti tampak dalam kemampuan menangkap bahasa dengan cepat.

Tugas lain selama masa ini menyangkut bagaimana mengintegrasikan anggota keluarga yang baru (anak kedua dan ketiga) semasa masih memenuhi kebutuhan anak yang lebih tua. Penggeseran seorang anak oleh bayi baru lahir secara psikologis merupakan suatu kejadian traumatik. Persiapan anak-anak menjelang kelahiran seorang bayi membantu memperbaiki situasi, khususnya jika orangtua sensitif terhadap perasaan dan tingkah laku anak yang lebih tua. Persaingan dikalangan kakak beradik (sibling rivalry) biasanya diungkapkan dengan memukul atau berhubungan secara negatif dengan bayi, tingkah laku  regresif, melakukan kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian. Cara terbaik menangani persaingan dikalangan kakak adik adalah dengan  meluangkan waktu setiap hari untuk berhubungan lebih erat dengan anak yang lebih tua untuk meyakinkannya bahwa ia masih dicintai dan dikehendaki.

Kira-kira saat anak mencapai usia prasekolah, orangtua memasuki  tahap pengasuhan anak yang ketiga, salah satunya belajar berpisah dari anak-anak ketika mereka mulai masuk ke kelompok bermain, tempat penitipan anak, atau taman kanak-kanak. Tahap ini berlangsung terus selama usia prasekolah hingga memasuki  awal usia sekolah. Pisah seringkali terasa sulit bagi orangtua dan mereka perlu mendapat dukungan dan penjelasan tentang bagaimana penguasaan tugas-tugas perkembangan  anak usia prasekolah memberikan kontribusi untuk semakin meningkatnya otonomi mereka.

Pisah dari orangtua juga sulit bagi anak-anak usia prasekolah. Pisah dapat terjadi karena orangtua pergi bekerja, ke rumah sakit, melakukan perjalanan atau berlibur. Persiapan keluarga untuk pisah dengan anak sangat penting dalam membantu anak menyesuaikan diri terhadap perubahan.

Membantu keluarga untuk mendapatkan pelayanan keluarga berencana setelah kelahiran seorang bayi, atau melanjutkan kontrasepsi jika tidak terdapat kehamilan, juga diindikasikan. Misalnya, adalah tidak biasa bagi seorang wanita untuk berhenti menggunakan alt kontrasepsi karena terlambat haid dengan keyakinan bahwa ia hamil, hanya untuk mencari tahu apakah kehamilannya terjadi karena hubungan seks tanpa perlindungan kontrasepsi.

Kedua orangtua perlu memiliki kesenangan dan kontak di luar rumah untuk mengawetmudakan mereka sehingga mereka dapat melaksanakan berbagai tugas-tugas dan tanggungjawab di rumah. Orangtua dari golongan kelas rendah dan orang tunggal sering tidak punya kesempatan untuk melakukan hal ini, dan keluarga-keluarga ini mendapat kepuasan paling sedikit terhadap pergaulan mereka dan komunitas yang lebih luas karena posisi mereka yang terasing dan kekurangan sumber-sumber yang tersedia bagi mereka.

C. Masalah-Masalah Kesehatan.
Banyak sekali masalah kesehatan yang telah diidentifikasi sepanjang pembahasan kita tentang keluarga dengan anak usia prasekolah. Seperti telah dinyatakan sebelumnya, masalah kesehatan fisik yang utama adalah penyakit-penyakit menular yang lazim pada anak dan jatuh, luka bakar, keracunan dan kecelakaan-kecelakaan yang lain yang terjadi selama usia prasekolah.

Masalah-masalah kesehatan psikososial keluarga yang utama adalah hubungan perkawinan. Beberapa studi mencoba meneliti menurunnya kepuasan yang dialami oleh banyak pasanga selama tahun-tahun ini dan perlunya penanganan terhadap masalah ini untuk memperkokoh dan memberikan semangat pada unit lain yang vital ini. Masalah-masalah kesehatan lain yang penting adalah persaingan diantara kakak-adik, keluarga berencana, kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan, masalah-masalah pengasuhan anak seperti membatasi lingkungan (disiplin), penganiayaan dan menelantarkan anak, keamanan di rumah dan masalah-masalah komunikasi keluarga.

Strategi-strategi promosi kesehatan umum berhubungan erat selama tahap ini, karena tingkah laku gaya hidup yang dipelajari selama masa kanak-kanak dapat menyebabkan konsekuensi-konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang. Pendidikan kesehatan keluarga diarahkan pada pencegahan masalah-masalah kesehatan utama seperti merokok, penyahagunaan obat-obatan dan alkohol, seksualitas manusia, keselamatan, diet dan nutrisi, olahraga dan penanganan stress/dukungan sosial. “Tujuan utama bagi para perawat yang bekerja dengan keluarga dan anak usia prasekolah adalah membantu mereka membentuk gaya hidup yang sehat dan memfasilitasi pertumbuhan fisik, intelektual, emosional dan sosial secara optimal. (Wilson, 1088, hal. 177).

Kemungkinan diagnosa

  • Resiko cidera
  • Resiko trauma
  • Resiko keracunan
  • Resiko infeksi
  • Gangguan penanganan pemeliharaan rumah
  • Perubahan menjadi orang tua
  • Perubahan pertumbuhan dan perkembangan
  • Gangguan komunikasi verbal 

Peran perawat

  • Monitor perkembangan awal masa kanak-kanak, perujukan bila ada indikasi
  • Pendidik dalam tindakan pertolongan pertama dan kedaruratan
  • Koordinator dg layanan pediatri
  • Penyelia imunisasi
  • Konselor pada nutrisi dan latihan
  • Pendidik dlm isu pemecahan masalah mengenai kebiasaan kesehatan
  • Pendidik tentang higiene perawatan gigi
  • Konselor pada keamanan lingkungan di rumah
  • Fasilitator dalam hubungan interpersonal


Defenisi Dan Kriteria Kelompok

LANSIA DAN KELOMPOK

Definisi Kelompok
·         Pengelompokkan manusia ke dalam wadah-wadah tertentu,merupakan bentuk kehidupan bersama,yang dilandasi oleh kriteria tertentu seperti usia,jenis kelamin,latar belakang pendidikan,pekerjaan dan kepentingan-kepentingan tertentu dalam bidang kesehatan atau keperawatan karena adanya kebutuhan yang sama untuk mencapai sesuatu tujuan yang diingikan.

Kriteria Kelompok
            Menurut Soejono Soekanto (1982) kriteria kelompok didasarkan pada:
·         Besar kecilnya jumlah anggota kelompok sosial.
·         Derajat interaksi dalam kelompok sosial tersebut.
·         Kepentingan dan wilayah.
·         Berlangsungnya suatu kepentingan derajat organisasi.
·         Kesadaran akan jenis yang sama,hubungan sosial dan tujuan.
Kelompok Khusus (Lansia)
            Adalah sekelompok masyarakat atau individu yang karena keadaan fisik,mental maupun sosial-budaya dan ekonominya perlu mendapatkan bantuan,bimbingan dan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan mereka dalam memelihara kesehatan dan keperawatan terhadap dirinya sendiri.
Perawatan Kelompok Khusus
1.      Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut
Upaya Promotif,yaitu cara menggairahkan semangat hidup bagi lansia agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna baik bagi dirinya sendiri,keluarga maupun masyarakat.Upaya promotif ini dapat berupa kegiatan penyuluhan tentang :
a.       Kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri.
b.      Makanan dengan menu yang mengandung gizi seimbang.
c.       Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan lansia agar tetap merasa sehat dan segar.
d.      Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
e.       Membina ketrampilan agar dapat mengembangkan kegemaran sesuai dengan kemampuan.
f.       Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat.
Upaya Preventif,yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses ketuaan
a.       Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan teratur untuk menemukan secara dini penyakit-penyakit lansia.
b.      Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan lansia agar tetap merasa sehat dan segar.
c.       Penyuluhan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya:kacamata,alat antu dengar dan lain-lain agar lansia tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna.
d.      Penyuluhan untuk mencegah terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan pada lansia.
e.       Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha Esa.

Upaya kuratif,yaitu upaya pengobatan bagi lansia.Upaya kuratif dapat berupa kegiatan antara lain:
a.       Pelayanan kesehatan dasar.
b.      Pelayanan kesehatan spesialistik melalui system rujukan.

Upaya rehabilitatif,yaitu upaya mengembalikan fungsi organ yang telah menurun.
Upaya rehabilitative dapat berupa kegiatan antara lain:
·         Memberikan informasi,pengetahuan dan pelayanan tentang penggunaan berbagai alat bantu,misalnya kacamata,alat bantu dengar dan lain-lain agar lansia tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna sesuai kebutuhan dan kemampuan.
·         Mengembalikan kepercayaan pada diri sendiri dan memperkuat mental penderita.
·         Pembinaan lansia dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi,aktifitas di dalam maupun di luar rumah.
·         Nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita.
·         Perawatan fisioterapi.

2.      Peningkatan peran serta masyarakat
Dapat dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan kesehatan.

3.      Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut
Melalui forum lokakarya yang nantinya melalui stratifikasi puskesmas dan mikroplanning bila telah dilaksanakan secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan lansia secara optimal.

4.      Pencatatan dan pelaporan
Di integrasikan ke dalam system pencatatan terpadu puskesmas.

Sasaran Perawatan Kelompok Khusus
1)      Institusi-institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap kelompok khusus.
2)      Pelayanan kelompok khusus yang ada di masyarakat yang telah di organisir secara baik atau melalui posyandu yang ditujukan untuk:
·         Ibu hamil
·         Bayi dan anak balita
·         Kelompok khusus dengan ciri khas tetentu (missal:lansia,kelompok penderita berpenyakit tertentu,seperti kusta,dll)



PELAYANAN KELOMPOK KHUSUS
*
1.                  Pelayanan di Institusi
Adalah pelayanan terhadap lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang menyelenggarakan pemeliharaan dan pembinaan kelompok-kelompok khusus tertentu,diantaranya :
  •       Panti Werdha
  • *      Panti Asuhan
  • *      Pusat Rehabilitasi Anak cacat (fisik,mental,sosial)
  • *      Penitipan balita
  • Yang menjadi sasaran pembinaan dan pelayanan kelompok khusus di institusi adalah meliputi:
a)      Penghuni panti
b)      Petugas panti
c)      Lingkungan panti

2.                  Pelayanan di Masyarakat
Pelayanan di masyarakat dapat dilakukan melalui kelompok-kelompok yang terorganisir dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat,melalui pembentukan kader kesehatan di antara kelompok tersebut,yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan oleh Puskesmas.


TAHAP PERAWATAN KELOMPOK KHUSUS

1.                  Tahap Persiapan
§  Mengidentifikasi jumlah kelompok khusus yang ada di masyarakat dan jumlah panti atau pusat-pusat rehabilitasi yang ada di suatu wilayah binaan.
§  Mengadakan pendekatan sebagai penjajagan awal pembinaan kelompok khusus terhadap institusi.
§  Identifikasi masalah kelompok khusus di masyarakat dan di panti/institusi,melalui pengumpulan data.
§  Menganalisa data kelompok khusus di masyarakat dan di institusi.
§  Merumuskan masalah dan prioritas masalah kesehatan dan keperawatan kelompok khusus di masyarakat dan di institusi.
§  Mulai dari tahap mengidentifikasi masalah,analisa data,perumusan masalah dan prioritas masalah kesehatan / keperawatan kelompok khusus melibatkan kader kesehatan dan petugas panti.

2.               Tahap Perencanaan
Menyusun perencanaan penanggungan masalah kesehatan / keperawatan bersama petugas panti (bagi yang di institusi) dan kader kesehatan (yang di masyarakat) yang menyangkut:
a)      Jadwal kegiatan (tujuan,sasaran,jenis pelayanan,biaya,kriteria hasil)
b)      Jadwal kunjungan
c)      Tenaga pelaksana pengorganisasian kegiatan.

3.                  Tahap Pelaksanaan
a.       Pendidikan dan pelatihan kader dan petugas panti.
b.      Pelayanan kesehatan dan keperawatan.
c.       Penyuluhan kesehatan.
d.      Imunisasi (khusus pada ibu,bayi dan balita)
e.       Penemuan khasus dini.
f.       Rujukan bila di anggap perlu.
g.       Pencatatan dan peloporan.

Perencanaan keperawatan komunitas

Perencanaan keperawatan komunitas
Tahap kedua dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang harus dilakukan untuk membantu sasaran dalam upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Langkah pertama dalam tahap perencanaan adalah menetapkan tujuan dan sasaran kegiatan untuk mengatasi masalah yang telah ditetapkan sesuai dengan diagnosis keperawatan. Dalam menentukan tahap berikutnya yaitu rencana pelaksanaan kegiatan maka ada dua faktor yang mempengaruhi dan dipertimbangkan dalam menyusun rencana tersebut yaitu sifat masalah dan sumber/potensi masyarakat seperti dana, sarana, tenaga yang tersedia.
Dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :

a)    Tahap persiapan
Dengan dilakukan pemilihan daerah yang menjadi prioritas menentukan cara untuk berhubungan dengan masyarakat, mempelajari dan bekerjasama dengan masyarakat.
b)   Tahap pengorganisasian
Dengan persiapan pembentukan kelompok kerja kesehatan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kesehatan dalam masyarakat. Kelompok kerja kesehatan (Pokjakes) adalah suatu wadah kegiatan yang dibentuk oleh masyarakat secara bergotong royong untuk menolong diri mereka sendiri dalam mengenal dan memecahkan masalah atau kebutuhan kesehatan dan kesejahteraan, meningkatkan kemampuan masyarakat berperanserta dalam pembangunan kesehatan di wilayahnya.
c)    Tahap pendidikan dan latihan
• Kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok masyarakat
• Melakukan pengkajian
• Membuat program berdasarkan masalah atau diagnose keperawatan
• Melatih kader
• Keperawatan langsung terhadap individu, keluarga dan masyarakat
d)   Tahap formasi kepemimpinan
e)    Tahap koordinasi intersektoral
f)    Tahap akhir
Dengan melakukan supervisi atau kunjungan bertahap untuk mengevaluasi serta memberikan umpan balik untuk perbaikan kegiatan kelompok kerja kesehatan lebih lanjut.

Defenisi Promosi kesehatan

   Promosi kesehatan
Promosi kesehatan adalah salah satu bentuk upaya pelayanan kesehatan yang berorientasi pada penyampaian informasi tentang kesehatan guna penanaman pengetahuan tentang kesehatan sehingga tumbuh kesadaran untuk hidup sehat. Penerapan promosi kesehatan di lapangan biasanya melalui pendidikan kesehatan dan penyuluhan kesehatan.
Promosi kesehatan/pendidikan kesehatan merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang mempunyai dua sisi, yakni sisi ilmu dan sisi seni. Dilihat dari sisi seni, yakni praktisi atau aplikasi pendidikan kesehatan adalah merupakan penunjang bagi program-program kesehatan lain. Ini artinya bahwa setiap program kesehatan yang telah ada misalnya pemberantasan penyakit menular/tidak menular, program perbaikan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, upaya kesehatan ibu dan anak, program pelayanan kesehatan dan lain sebagainya sangat perlu ditunjang serta didukung oleh adanya promosi kesehatan.
Promosi kesehatan bukanlah hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan semata, akan tetapi di dalamnya terdapat usaha untuk dapat memfasilitasi dalam rangka perubahan perilaku masyarakat.
Dalam hal ini organisasi kesehatan dunia WHO telah merumuskan suatu bentuk definisi mengenai promosi kesehatan :

“Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and improve, their health. To reach a state of complete physical, mental, and social, well-being, an individual or group must be able to identify and realize aspirations, to satisfy needs, and to change or cope with the environment“. (Ottawa Charter,1986).
Jadi, dapat disimpulkan dari kutipan tersebut diatas bahwa Promosi Kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan sebagainya).
Selanjutnya, Australian Health Foundation merumuskan batasan lain pada promosi kesehatan sebagai berikut : “Health promotion is programs are design to bring about “change”within people, organization, communities, and their environment”.
Artinya bahwa promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi dan lingkungannya.
Dengan demikian bahwa promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan (Green dan Ottoson,1998). Promosi kesehatan merupakan proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Proses pemberdayaan tersebut dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat; Artinya proses pemberdayaan tersebut dilakukan melalui kelompok-kelompok potensial di masyarakat, bahkan semua komponen masyarakat. Proses pemberdayaan tersebut juga dilakukan dengan menggunakan pendekatan sosial budaya setempat. Proses pembelajaran tersebut juga dibarengi dengan upaya mempengaruhi lingkungan, baik lingkungan fisik termasuk kebijakan dan peraturan perundangan.

Defenisi Pemberdayaan komunitas

E.       Pemberdayaan komunitas
Pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo, 2007).
Pemberdayaan pada masyarakat dibidang kesehatan merupakan sasaran utama promosi kesehatan. Menurut WHO, terdapat 3 (tiga) strategi pokok untuk dapat mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan secara efektif, yakni melalui: advokasidukungan sosial, danpemberdayaan masyarakat.
Adapun pendekatan yang ditempuh dilapangan umumnya melalui 3 (tiga) langkah yakni :
  1. Melakukan lobi (pendekatan) kepada pimpinan (para pengambil keputusan)
  2. Melakukan pendekatan kepada para tokoh masyarakat formal dan informal, misalnya melalui kegiatan pelatihan.
  3. Pada tahapan selanjutnya petugas bersama-sama tokoh masyarakat melakukan penyuluhan dan konseling untuk meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat.
 Batasan pemberdayaan dalam bidang kesehatan meliputi upaya untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan sehingga secara bertahap tujuan pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk:
  1. Menumbuhkan kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman akan kesehatan individu, kelompok, dan masyarakat.
  2. Menimbulkan kemauan yang merupakan kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan atau sikap untuk meningkatkan kesehatan mereka.
  3. Menimbulkan kemampuan masyarakat untuk mendukung terwujudnya tindakan atau perilaku sehat.

    Suatu masyarakat dikatakan mandiri dalam bidang kesehatan apabila:
  1. Mereka mampu mengenali masalah kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan terutama di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Pengetahuan tersebut meliputi pengetahuan tentang penyakit, gizi dan makanan, perumahan dan sanitasi, serta bahaya merokok dan zat-zat yang menimbulkan gangguan kesehatan.
  2. Mereka mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri dengan menggali potensi-potensi masyarakat setempat.
  3. Mampu memelihara dan melindungi diri mereka dari berbagai ancaman kesehatan dengan melakukan tindakan pencegahan.
  4. Mampu meningkatkan kesehatan secara dinamis dan terus-menerus melalui berbagai macam kegiatan seperti kelompok kebugaran, olahraga, konsultasi dan sebagainya.
Prinsip pemberdayaan masyarakat
1.        Menumbuhkembangkan potensi masyarakat.
2.        Mengembangkan gotong-royong masyarakat.
3.        Menggali kontribusi masyarakat.
4.        Menjalin kemitraan.
5.        Desentralisasi.
Peran petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat
  1. Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-program pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian masyarakat.
  2. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi terhadap program tersebut.
  3. Mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada masyarakat dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat vokasional.
Ciri pemberdayaan masyarakat
  1. Community leader (pimpinan masyarakat). petugas kesehatan melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat atau pemimpin terlebih dahulu. Misalnya Camat, lurah, kepala adat, ustad, dan sebagainya.
  2. Community organization (organisasi masyarakat). organisasi seperti PKK, karang taruna, majlis taklim, dan lainnnya merupakan potensi yang dapat dijadikan mitra kerja dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
  3. Community Fund (pendanaan masyarakat)Dana sehat atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) yang dikembangkan dengan prinsip gotong royong sebagai salah satu prinsip pemberdayaan masyarakat.
  4. Community material (material masyarakat) : setiap daerah memiliki potensi tersendiri yang dapat digunakan untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan. Misalnya, desa dekat kali pengahsil pasir memiliki potensi untuk melakukan pengerasan jalan untuk memudahkan akses ke puskesmas.
  5. Community knowledge (pengetahuan masyarakat): pemberdayaan bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan berbagai penyuluhan kesehatan yang menggunakan pendekatan community based health education.
  6. Community technology (teknologi masyarakat): teknologi sederhana di komunitas dapat digunakan untuk pengembangan program kesehatan misalnya penyaringan air dengan pasiratau arang.
Contoh Pemberdayaan Masyarakat
a.         Pemberdayaan Keluarga dibidang Kesehatan dan Gizi
pemberdayaan keluarga yang mempunyai masalah kesehatan gizi bekerja sama menanggulangi masalah yang mereka hadapi dengan cara ikut berpartisipasi dalam memecahakan masalah yang dihadapi.
b.        Pemberdayaan Masyarakat di bidang Gizi
Tujuannya adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dan mengurangi kelaparan dan peduli terhadap masalah gizi yang muncul dimasyarakat
Hal yang perlu diperhatikan :
  • Pemberdayaan ekonomi mikro, kegiatan dilaksanakan secara lintas sektoral terutama dalam rangka meningkatkan pendapatan.
  • Advokasi untuk memperoleh dukungan, baik teknis maupun non teknis dari Pemda setempat untuk memobilisasi sumber daya masyarakat yang dimiliki.
c.         Pemberdayaan Petugas
d.        Subsidi Langsung
F.        Berkolaborasi dengan berbagai sector
G.      Rujukan kesehatan
Adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal maupun horizontal. Pelayanan kesehatan masyarakat terdiri dari 3 bentuk yaitu :
1.        Pelayanan kesehatan tingkat pertama ( primary health care )
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan. Oleh karena jumlah kelompok ini didalam suatu populasi sangat besar ( lebih kurang 85% ), pelayanan yang diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan kesehatan dasar ( basic health services ), atau juga merupakan pelayanan kesehatan primer atau utama ( primary health care ). Bentuk pelayanan ini di Indonesia adalah puskesmas yaitu puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan balkesmas.
2.        Pelayanan kesehatan tingkat kedua ( secondary health service )
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang memerlukan perawatan inap yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer. Bentuk pelayanan ini misalnya rumah sakit tipe C dan D memerlukan tersedianya tenaga – tenaga spesialis.
3.        Pelayanan kesehatan tingkat ketiga ( tertiary health service )
Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat atau pasien yang tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Pelayanan sudah komplek dan memerlukan tenaga – tenaga super spesialis.

 

Link Kesehatan Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger