Showing posts with label manajemen keperawatan. Show all posts
Showing posts with label manajemen keperawatan. Show all posts

etika dalam praktek keperawatan

KONSEP ETIKA DALAM PRAKTEK KEPERAWATAN


            Etika merupakan kata yang berasal dari Yunani, yaitu Ethos, yang menurut Araskar dan David (1978) berarti kebiasaan atau model prilaku, atau standar yang diharapkan dan kriteria tertentu untuk sesuatu tindakan, dapat diartikan segala sesuatu yang berhubungan dengan pertimbangan pembuatan keputusan, benar atau tidaknya suatu perbuatan. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Curret English, AS Hornby mengartikan etika sebagai sistem dari prinsip-prinsip moral atau aturan-aturan prilaku. Menurut definisi AARN (1996), etika berfokus pada yang seharusnya baik salah atau benar, atau hal baik atau buruk. Sedangkan menurut Rowson, (1992).etik adalah Segala sesuatu yang berhubungan/alasan tentang isu moral.
            Moral adalah suatu kegiatan/prilaku yang mengarahkan manusia untuk memilih tindakan baik dan buruk, dapat dikatakan etik merupakan kesadaran yang sistematis terhadap prilaku yang dapat dipertanggung jawabkan (Degraf, 1988). Etika merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan dengan keputusan moral menyangkut manusia (Spike lee, 1994). Menurut Webster’s “The discipline dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation, ethics offers conceptual tools to evaluate and guide moral decision making”
            Beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa etika merupakan pengetahuan moral dan susila, falsafah hidup, kekuatan moral, sistem nilai, kesepakatan, serta himpunan hal-hal yang diwajibkan, larangan untuk suatu kelompok/masyarakat dan bukan merupakan hukum atau undang-undang. Dan hal ini menegaskan bahwa moral merupakan bagian dari etik, dan etika merupakan ilmu tentang moral sedangkan moral satu kesatuan nilai yang dipakai manusia sebagai dasar prilakunnya. Maka etika keperawatan (nursing ethics) merupakan bentuk ekspresi bagaimana perawat seharusnya mengatur diri sendiri, dan etika keperawatan diatur dalam kode etik keperawatan.
Konsep Moral dalam praktek keperawatan
Praktek keperawatan menurut Henderson dalam bukunya tentang teori keperawatan, yaitu segala sesuatu yang dilakukan perawat dalam mengatasi masalah keperawatan dengan menggunakan metode ilmiah, bila membicarakan praktek keperawatan tidak lepas dari fenomena keperawatan dan hubungan pasien dan perawat.
Fenomena keperawatan merupakan penyimpangan/tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (bio, psiko, social dan spiritual), mulai dari tingkat individu untuk sampai pada tingkat masyarakat yang juga tercermin pada tingkat system organ fungsional sampai subseluler (Henderson, 1978, lih, Ann Mariner, 2003). Asuhan keperawatan merupakan bentuk dari praktek keperawatan, dimana asuhan keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan praktek keperawatan yang diberikan pada pasein dengan menggunakan proses keperawatan berpedoman pada standar keperawatan, dilandasi etika dan etiket keperawatan (Kozier, 1991). Asuhan keperawatan ditujukan untuk memandirikan pasien, (Orem, 1956,lih, Ann Mariner, 2003).
Keperawatan merupakan Bentuk asuhan keperawatan kepada individu, keluarga dan masyarakat berdasarkan ilmu dan seni dan menpunyai hubungan perawat dan pasien sebagai hubungan professional (Kozier, 1991). Hubungan professional yang dimaksud adalah hubungan terapeutik antara perawat pasien yang dilandasi oleh rasa percaya, empati, cinta, otonomi, dan didahulu adanya kontrak yang jelas dengan tujuan membantu pasien dalam proses penyembuhan dari sakit (Kozier,1991).
Prinsip-prinsip moral dalam praktek keperawatan
Menghargai otonomi (facilitate autonomy)
Suatu bentuk hak individu dalam mengatur kegiatan/prilaku dan tujuan hidup individu. Kebebasan dalam memilih atau menerima suatu tanggung jawab terhadap pilihannya sendiri.  Prinsip otonomi menegaskan bahwa seseorang mempunyai kemerdekaan untuk menentukan keputusan dirinya menurut rencana pilihannya sendiri. Bagian dari apa yang didiperlukan dalam ide terhadap respect terhadap seseorang, menurut prinsip ini adalah menerima pilihan individu tanpa memperhatikan apakah pilihan seperti itu adalah kepentingannya. (Curtin, 2002). Permasalahan dari penerapan prinsip ini adalah adanya variasi kemampuan otonomi pasien yang dipengaruhi oleh banyak hal, seperti tingkat kesadaran, usia, penyakit, lingkungan Rumah SAkit, ekonomi, tersedianya informsi dan lain-lain (Priharjo, 1995). Contoh: Kebebasan pasien untuk memilih pengobatan dan siapa yang berhak mengobatinya sesuai dengan yang diinginkan .
Kebebasan (freedom)
Prilaku tanpa tekanan dari luar, memutuskan sesuatu tanpa tekanan atau paksaan pihak lain (Facione et all, 1991). Bahwa siapapun bebas menentukan pilihan yang menurut pandangannya sesuatu yang terbaik.
Contoh : Klien mempunyai hak untuk menerima atau menolak asuhan keperawatan yang diberikan.
Kebenaran (Veracity) à truth
Melakukan kegiatan/tindakan sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika yang tidak bertentangan (tepat, lengkap). Prinsip kejujuran menurut Veatch dan Fry (1987) didefinisikan sebagai menyatakan hal yang sebenarnya dan tidak bohong. Suatu kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya atau untuk tidak membohongi orang lain. Kebenaran merupakan hal yang fundamental dalam membangun hubungan saling percaya dengan pasien. Perawat sering tidak memberitahukan kejadian sebenarnya pada pasien yang memang sakit parah. Namun dari hasil penelitian pada pasien dalam keadaan terminal menjelaskan bahwa pasien ingin diberitahu tentang kondisinya secara jujur (Veatch, 1978).
Contoh : Tindakan pemasangan infus harus dilakukan sesuai dengan SOP yang berlaku dimana klien dirawat.
Keadilan (Justice)
Hak setiap orang untuk diperlakukan sama (facione et all, 1991). Merupakan suatu prinsip moral untuk berlaku adil bagi semua individu. Artinya individu mendapat tindakan yang sama mempunyai kontribusi yang relative sama untuk kebaikan kehidupan seseorang. Prinsip dari keadilan menurut beauchamp dan childress adalah mereka uang sederajat harus diperlakukan sederajat, sedangkan yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak sederajat, sesuai dengan kebutuhan mereka.
Ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar, maka menurut prinsip ini harus mendapatkan sumber-sumber yang besar pula, sebagai contoh: Tindakan keperawatan yang dilakukan seorang perawat baik dibangsal maupun di ruang VIP harus sama dan sesuai SAK
Tidak Membahayakan (Nonmaleficence)
Tindakan/ prilaku yang tidak menyebabkan kecelakaan atau membahayakan orang lain.(Aiken, 2003). Contoh : Bila ada klien dirawat dengan penurunan kesadaran, maka harus dipasang side driil.
Kemurahan Hati (Benefiecence)
Menyeimbangkan hal-hal yang menguntungkan dan merugikan/membahayakan dari tindakan yang dilakukan. Melakukan hal-hal yang baik untuk orang lain. Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan orang lain/pasien. Prinsip ini sering kali sulit diterapkan dalam praktek keperawatan. Berbagai tindakan yang dilakukan sering memberikan dampak yang merugikan pasien, serta tidak adanya kepastian yang jelas apakah perawat bertanggung jawab atas semua cara yang menguntungkan pasien.Contoh: Setiap perawat harus dapat merawat dan memperlakukan klien dengan baik dan benar.
Kesetiaan (fidelity)
Memenuhi kewajiban dan tugas dengan penuh kepercayaan dan tanggung jawab, memenuhi janji-janji. Veatch dan Fry mendifinisikan sebagai tanggung jawab untuk tetap setia pada suatu kesepakatan. Tanggung jawab dalam konteks hubungan perawat-pasien meliputi tanggung jawab menjaga janji, mempertahankan konfidensi dan memberikan perhatian/kepedulian. Peduli kepada pasien merupakan salah satu dari prinsip ketataatan. Peduli pada pasien merupakan komponen paling penting dari praktek keperawatan, terutama pada pasien dalam kondisi terminal (Fry, 1991). Rasa kepedulian perawat diwujudkan dalam memberi asuhan keperawatan dengan pendekatan individual, bersikap baik, memberikan kenyamanan dan menunjukan kemampuan profesional
Contoh: Bila perawat sudah berjanji untuk memberikan suatu tindakan, maka tidak boleh mengingkari janji tersebut.
Kerahasiaan (Confidentiality)
Melindungi informasi yang bersifat pribadi, prinsip bahwwa perawat menghargai semua informsi tentang pasien dan perawat menyadari bahwa pasien mempunyai hak istimewa dan semua yang berhubungan dengan informasi pasien tidak untuk disebarluaskan secara tidak tepat (Aiken, 2003). Contoh : Perawat tidak boleh menceritakan rahasia klien pada orang lain, kecuali seijin klien atau seijin keluarga demi kepentingan hukum.
Hak  (Right)
Berprilaku sesuai dengan perjanjian hukum, peraturan-peraturan dan moralitas, berhubungan dengan hukum legal.(Webster’s, 1998). Contoh : Klien berhak untuk mengetahui informasi tentang penyakit dan segala sesuatu yang perlu diketahuinya
Hak-hak perawat, menurut  Claire dan Fagin (1975), bahwa perawat berhak:
a.       Mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya
b.      Mengembangkan diri melalui kemampuan kompetensinya sesuai dengan latar pendidikannya
c.       Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan serta standard an kode etik profesi
d.      Mendapatkan informasi lengkap dari pasien atau keluaregannya tentang keluhan kesehatan dan ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diberikan
e.       Mendapatkan ilmu pengetahuannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang keperawatan/kesehatan secara terus menerus.
f.       Diperlakukan secara adil dan jujur baik oleh institusi pelayanan maupun oleh pasien
g.      Mendapatkan jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang dapat menimbulkan bahaya baik secara fisik maupun emosional
h.      Diikutsertakan dalam penyusunan dan penetapan kebijaksanaan pelayanan kesehatan.
i.        Privasi dan berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh pasien dan atau keluargannya serta tenaga kesehatan lainnya.
j.        Menolak dipindahkan ke tempat tugas lain, baik melalui anjuran maupun pengumuman tertulis karena diperlukan, untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan standar profesi atau kode etik keperawatan atau aturan perundang-undangan lainnya.
k.      Mendapatkan penghargaan dan imbalan yang layak atas jasa profesi yang diberikannya berdasarkan perjanjian atau ketentuan yang berlaku di institusi pelayanan yang bersangkutan
l.        Memperoleh kesempatan mengembangkan karier sesuai dengan bidang profesinya.
Tanggung jawab/kewajiban perawat
Disamping beberapa hak perawat yang telah diuraikan diatas, dalam mencapai keseimbangan hak perawat maka perawat juga harus mempunyai kewajibannya sebagai bentuk tanggung jawab kepada penerima praktek keperawatan. (Claire dan Fagin, 1975l,dalam Fundamental of nursing,Kozier 1991)
Kewajiban perawat, sebagai berikut:
a.       Mematuhi semua peraturan institusi yang bersangkutan
b.      Memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi dan batas kemanfaatannya
c.       Menghormati hak pasien
d.      Merujuk pasien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain yang mempunyai keahlihan atau kemampuan yang lebih kompeten, bila yang bersangkutan tidak dapat mengatasinya.
e.       Memberikan kesempatan kepada pasien untuk berhubungan dengan keluarganya, selama tidak bertentangan dengan peraturan atau standar profesi yang ada.
f.       Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing selama tidak mengganggu pasien yang lainnya.
g.      Berkolaborasi dengan tenaga medis (dokter) atau tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada pasien
h.      Memberikan informasi yang akurat tentang tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien dan atau keluargannya sesuai dengan batas kemampuaannya
i.        Mendokumentasikan asuhan keperawatan secara akurat dan berkesinambungan
j.        Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dn tehnologi keperawatan atau kesehatan secara terus menerus
k.      Melakukan pelayanan darurat sebagai tugas kemanusiaan sesuai dengan batas kewenangannya
l.        Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, kesuali jika dimintai keterangan oleh pihak yang berwenang.
m.    Memenuhi hal-hal yang telah disepakati atau perjanjian yang telah dibuat sebelumnya terhadap institusi tempat bekerja.
Hak-hak pasien
Disamping beberapa hak dan kewajiban perawat, perawat juga harus mengenal hak-hak pasien sebagai obyek dalam praktek keperawatan. Sebagai hak dasar sebagai manusia maka penerima asuhan keperawatan juga harus dilindungi hak-haknya, sesuai perkembangan dan tuntutan dalam praktek keperawatan saat ini pasien juga lebih meminta untuk menentukan sendiri dan mengontrol tubuh mereka sendiri bila sakit; persetujuan, kerahasiaan, dan hak pasien untuk menolak pengobatan merupakan aspek dari penentuan diri sendiri. Hal-hal inilah yang perlu dihargai dan diperhatikan oleh profesi keperawat dalam menjalankan kewajibannya.
Tetapi dilain pihak, seorang individu yang mengalami sakit sering tidak mampu untuk menyatakan hak-haknya, karena menyatakan hak memerlukan energi dan kesadaran diri yang baik sedangkan dalam kondisi sakit seseorang mengalami kelemahan atau terikat dengan penyakitnya dan dalam kondisi inilah sering individu tidak menyadari akan haknya, disinilah peran seoran professional perawat.
Oleh karena itu sebagai perawat professional harus menganal hak-hak pasien, menurut Annas dan Healy, 1974, hak-hak pasien adalah sebagai berikut:
1)      Hak untuk kebenaran secara menyeluruh
2)      Hak untuk mendapatkan privasi dan martabat yang mandiri
3)      Hak untuk memelihara penentuan diri dalam berpartisipasi dalam keputusan sehubungan dengan kesehatan seseorang.
4)      Hak untuk memperoleh catatan medis, baik selama maupun sesudah dirawat di Rumah Sakit.
Sedangkan pernyataan hak pasien (Patient’s Bill of Right) yang diterbitkan oleh “The American Hospital Association” 1973, meliputi beberapa hal, yang dimaksudkan memberikan upaya peningkatan hak pasien yang dirawat dan dapat menjelaskan kepada pasien sebelum pasien dirawat.
Adapun hak-hak pasien, adalah sebagai beriku, pasien mempunyai hak:
1)      Mempertahankan dan mempertimbangkan serta mendapatkan asuhan keperawatan dengan penuh perhatian
2)      Memperoleh informasi terbaru, lengkap mengenai diagnosa, pengobatan dan program rehabilitasi dari tim medis, dan informasi seharusnya dibuat untuk orang yang tepat mewakili pasien, karena pasien mempunyai hak untuk mengetahui dari yang bertanggung jawab dan mengkoordinir asuhan keperawatannya.
3)      Menerima informasi penting untuk memberikan persetujuan sebelum memulai sesuatu prosedur atau pengobatan kecuali dalam keadaan darurat, mencakup beberapa hal penting, yaitu; lamanya ketidakmampuan, alternatif-alternatif tindakan lain dan siapa yang akan melakukan tindakan
4)      Menolak pengobatan sejauh yang diijinkan hukum dan diinformasikan tentang kosekwensi dari tindakan tersebut.
5)      Setiap melakukan tindakan selalu mempertimbangkan  privasinya termasuk asuhan keperawatan, pengobatan, diskusi kasus, pemeriksaan dan tindakan, dan selalu dijaga kerahasiaannya dan dilakukan dengan hati-hati, siapapun yang tidak terlibat langsung asuhan keperawatan dan pengobatan pasien harus mendapatkan ijin dari pasien.
6)      Mengharapkan bahwa semua komunikasi dan catatan mengenai asuhan keperawatan dan pengobatannya harus diperlakukan secara rahasia.
7)      Pasien mempunyai hak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ke tempat lain yang lebih lengkap dan memperoleh informasi yang lengkap tentang alasan rujukan tersebut, dan Rumah Sakit yang ditunjuk dapat menerimannya.
8)      Memperoleh informasi tentang hubungan Rumah Sakit dengan instansi lainnya, seperti pendidikan dan atau instansi terkait lainnya sehubungan dengan asuhan yang diterimannya, Contoh: hubungan individu yang merawatnya, nama perawat dan sebaginnya.
9)      Diberikan penasehat/pendamping apabila Rumah Sakit mengajukan untuk terlibat atau berperan dalam eksperimen manusiawi yang mempengaruhi asuhan atau pengobatannya. Pasien mempunyai hak untuk menolak berpartisipasi dalam proyek riset/penelitian tersebut.
10)  Mengharapkan asuhan berkelanjutan yang dapat diterima. Pasien mempunyai hak untuk mengetahui lebih jauh waktu perjanjian dengan dokter yang ada. Pasien mempunyai hak untuk mengharapkan Rumah Sakit menyediakan mekanisme sehingga ia mendapat informasi dari dokter atau staff yang didelegasikan oleh dokter tentang kesehatan pasien selanjutnya.
11)  Mengetahui peraturan dan ketentuan Rumah Sakit yang harus diikutinya sebagai pasien
12)  Mengetahui peraturan dan ketentuan Rumah Sakit yang harus diikutinya.

tekhnik komunikasi pada pasien dengan keadaan khusus

TEHNIK KOMUNIKASI PADA KEADAAN KHUSUS

 

Gangguan indra pada klien yang dirawat di Rumah Sakit ataupun individu di dalam masyarakat umum antara lain disebabkan oleh :
1. Gangguan anatomik organ
2. Gangguan fisiologik organ
3. Kematangan/ maturasi
4. Degenerasi
5. Kognitif persepsi
Dalam melakukan komunikasi, berbagai organ tubuh diperlukan untuk menghasilkan penyampaian pesan kepada lingkungan. Sistem organ penginderaan yang terlibat dalam komunikasi dikenal dengan pancaindera, yang meliputi penglihatan, penciuman, pendengaran, wicara dan peraba. Keseluruhan indra dikontrol oleh sistem saraf yang mengintegrasi sensasi / sensori yang dirasakan dan memori serta emosi yang tersimpan dalam otak.
Ada dua tingkat gangguan komunikasi yaitu gangguan pada sistem penginderaan dan pada tingkat integratif. Gangguan pada sistem penginderaan meliputi gangguan penglihatan, gangguan penginderaan dan gangguan wicara. Sedangkan gangguan yang melibatkan sistem integratif yang lebih tinggi, antara lain gangguan mental, gangguan maturasi pikir (degenerasi proses pikir) dan pada klien yang tidak sadar ; termasuk klien yang berbahasa asing.

Keadaan-keadaan khusus :
1. Komunikasi pada klien dengan gangguan penglihatan
2. Komunikasi pada klien dengan gangguan pendengaran
3. Komunikasi pada klien dengan gangguan wicara
4. Komunikasi pada klien yang tidak sadar
5. Komunikasi pada klien yang berbahasa asing
6. Komunikasi pada klien dengan tingkat pengetahuan rendah / gangguan kematangan kognitif.


KOMUNIKASI PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN WICARA

Neurofisiologi Bicara
Korteks serebri adalah permukaan serebrum yang merupakan pusat dari semua organ yang terdapat pada tubuh manusia. Korteks serebri merupakan pusat dari fungsi-fungsi sensoris dan fungsi-fungsi motoris.
Pergerakan organ bicara banyak ditentukan atau dikendalikan oleh kedua hemisfer akan tetapi kemampuan bahasa banyak ditentukan oleh hemisfer kiri. Pusat-pusat bahasa terdapat pada lobus frontalis, girus parasentralis, girus supramarginal, girus angularis, girus parietalis inferior, lobus temporalis serta bagian anterior dari lobus oksipitalis.

Mekanisme bicara

 Organ pendengaran :
Sumber bunyi → bunyi / getaran udara → impuls mekanik (telinga tengah) → impuls elektrik (telinga dalam) →saraf pendengaran (saraf austikus) → korteks pendengaran di otak.
 Pusat persepsi (Wernicke) :
Di sini impuls diolah dan diamati sehingga terdapat proses-proses : pembedaan rangsangan dengan latar belakang, penyimpanan rangsangan, pembentukan struktur dan analisa.
 Sound bank :
Bagian yang berfungsi sebagai relay station yang menghubungkan antara pusat persepsi dengan pusat pengertian. Disini rangsangan-rangsangan yang berarti atau akan diartikan dismpan dan diteruskan ke pusat pengertian untuk diolah lebih lanjut.
 Pusat pengertian :
Rangsangan yang diterima (setelah melalui proses sensasi dan persepsi) selanjutnya diasosiasikan dengan pengertian yang sudah dimiliki, melaui proses berpikir akhirnya rangsangan tersebut menjadi suatu konsep. Konsep tersebut selanjutnya disimpan dan siap dipergunakan dalam proses asosiasi, reproduksi, imajinasi, abstraksi, dan sekaligus akan berfungsi pula dalam proses berpikir.
 Engram otak :
Pusat menyimpan pola-pola garakan bunyi-bunyi (terutama bunyi bicara) yang diterima. Hal ini berfungsi ketika seseorang hendak mengekspresikan ide atau knsep yang diekspresikan tersebut dapat diterina dan dinengerti oleh pendengar sesuai dengan maksud pembicaranya.
 Pusat motorik :
Pusat mengendalikan pergerakan organ bicara, mekanisme pernafasan, fonasi, artikulasi dan resonansi sewaktu berbicara. Mekanisme tersebut sesuai dengan pola gerakan yang sudah ditentukan oleh engran bank.
 Organ bicara :
Meliputi seluruh organ yang berfungsi dalam proses pernafasan, fonasi, artikulasi dan resonansi. Organ pernapasan : diafragma, otot-otot dada, otot-otot perut, dan saluran pernapasan. Organ fonasi : laring terutama plika vokalis. Organ artikulasi : labium, palatum, lidah dan gigi serta faring.
 Umpan balik :
Merupakan suatu proses sensorik untuk mengendalikan (kesadaran dan kontrol ) pergerakan organ bicara. Dibedakan menjadi 2 macam :
1. Umpan balik auditorius : dimana dalam kurun waktu kurang dari seperseratus dua puluh lima detik (0.008 detik) seseorang akan mendengar suaranya sendiri. Dengan demikian ia akan mengetahui dan sadar terhadap kebenaran atau kesalahannya.
2. Umpan balik kinestetis : waktu terjadi mpuls motorik dari saraf ke otot sekaligus oaring akan merasakan pergerakan yang terjadi. Dengan demikian orang akan sadar tentang kebenaran atau kesalahan gerakan organ bicaranya.

Kesimpulanya mekanisme bicara dibedakan menjadi 2 proses :
1. Proses yang dimulai dari saat dimana seseorang mendengar rangsangan auditorius hingga terbentuk suatu konsep pengertian (proses reseptif).
2. Proses dimana seseorang mengungkapkan konsep pengertian melalui symbol bunyi yang diproduksi oleh organ bicara (proses ekspresif ) termasuk kesadaran dan pengendalian mekanisme bicara tersebut.

Kelainan Bicara
Kelainan bicara adalah salah satu jenis kelainan perilaku komunikasi yang ditandai dengan adanya kesalahan dalam proses produksi bunyi bicara. Secara klinis gejala kelainan bicara dalam hubungnnya dengan penyebab kelainan bicara tersebut dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Disaudia : Gangguan bicara akibat adanya gangguan pendengaran ini menyebabkan penderita mengalami kesulitan untuk menerima dan mengolah intensitas, nada dan kualitas bunyi bicara. Kompensasi : menggunakan bahas isyarat atau sikap tubuh dalam berkomunikasi.
2. Dislogia : Kelainan bicara berkenaan dengan rendahnya kapasitas mental intelektual atau tingkat kecerdasan.
3. Disartria : Kelainan bicara yang terjadi akibat adanya kelumpuhan, kelemahan, spastisitas atau gangguan koordinasi otot-otot organ-organ bicara sehubungan dengan adanya kerusakan atau lesi pada susunan saraf pusat maupun perifer.
4. Disglosia : Kelainan bicara yang terjadi akibat adanya kelainan bentuk dan struktur organ bicara, khususnya articulator. Misal palatoskisis ( celah pada palatum kadang disertai celah pada bibir), malokulasi (kelainan struktur gigi atas dan bawah), Anomali (sebab-sebab lain yang menyebabkan kelainan bentuk edan struktur organ bicara : menghisap ibu jari, sariawan, fraktur mandibula dll).
5. Dislalia : Kelainan bicara yang berkaitan dengan kondisi psikososial. Misal :
• Kurang perhatian auditif : tikus → kikus
• Rentang memori pendek : sepatu → tu atau atu
• Gangguan persepsi auditorius : bunyi bicara yang hampir sama, mata → maka
• Kesalahan meniru
• Idioglosia : pada anak kembar
• Bilingualisme
• Kesalahan artikulasi

Kelainan Bahasa
1. Keterlambatan perkembangan bahasa
2. Afasia

Kelainan Suara
1. Kelainan kenyaringan
2. Kelainan nada
3. Kelaianan kualitas
4. Afonia

Kelainan irama
1. Gagap
2. Cluttering : berbicara dengan suara yang sangat cepat
3. Palilalia ; Kecenderungan untuk mengulangi kata atau frase pada waktu mengucapkan kalimat

Penatalaksanaan Teraphy Wicara
Sifat tindakan dalam terapi wicara dapat dibedakan :
1. Kuratif
2. Rehabilitatif
3. Preventif
4. Promotif

Prosedur Terapi Wicara
1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan untuk mengetahui gejala gangguan/ kelainan perilaku komunikasi secara sistematis, baik gejala subyektif atau gejala obyektif. Pengkajian melalui wawancara, observasi tes khusus untuk mengukur kemampuan komunikasi.
2. Diagnostik dan Prognostik
Berdasarkan pengkajian dapat ditentukan jenis dan latar belakang gangguan/ kelainan berupa kondisi anatomis, fisiologis, psikologis dan sosiologis. Dapat juga diperkirakan perkembangan optimal yang dapat atau mungkin dicapai oleh penderita.
3. Perencanaan
Isi perencanaan meliputi :
• Tujuan prosedur terpi wicara
• Metode dan tehnik terapi wicara dan alternatifnya
• Penggunaan alat dan fasilitas yang akan digunakan
• Rujukan intra dan interdisiplin
4. Pelaksanaan
• Stimulasi : Memberikan rangsang yang cukup kuat bias berupa visual, auditorius dan taktil
• Psikoedukasi : Memberikan pengertian agar penderita memiliki sikap yang positif terhadap perilaku komunikasinya sehingga dapat berinteraksi dengan lingkungannya.
• Motokinestetik : Melatih penderita agar mampu menempatka organ atau otot dengan benar.
• Penempatan fonetik : Melatih penderita agar mampu menempatkan organ bicara pada tempat yang tepat dan menggerakkan dengan cara yang benar sehingga dapat mengucapkan bunyi bahasa yang benar.
• Kompensasi : Dilakukan apabila penderita tidak mungkin lagi untuk melakukan dengan cara yang normal.
5. Evaluasi
Untuk mengetahui perkembangan kemampuan yang di terapi, sehingga dapat diketahui kemungkinan penderita untuk dapat berkomunikasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan tahap pengembalian penderita pada aktivitas prilaku komunikasi seperti sebelum sakit.
Terapi wicara bukan satu-satunya pendekatan terhadap gangguan komunikasi, dalam memberikan terapi paripurna tetap diperlukan kerjasama dengan beberapa disiplin lain. Terapi wicara pada gangguan bahasa bersifat penyembuhan dan pemulihan. Tujuan akhirnya adalah mengembalikan penderita ke lingkungn semula atau resosialisasi. Tim rehabilitasi beranggotakan : dokter (ahli neurology), perawat terapi wicara, fisioterapis, terapis okupasi, protetis ortotis, pekerja social, psikolog dan keluarga penderita.

komunikasi pasien dengan gangguan pendengararan

KOMUNIKASI PADA KLIEN 

DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN

Gangguan pendengaran dapat terjadi berupa penurunan pendengaran hingga tuli. Bentuk tuli yang selama ini dikenal ialah tuli perspektif dan tuli konduktif. Tuli perspektif adalah tuli yang terjadi akibat kerusakan sistem saraf, sedangkan tuli konduktif terjadi akibat kerusakan struktur panghantar rangsang suara.
Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling sering digunakan ialah media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara yang di keluarkan orang lain, tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap dan gerakan anda dapat ditangkap oleh indra visualnya.

Berikut adalah tehnik-tehnik komunikasi yang dapat digunakan klien dengan pendengaran :
  1. Orientasikan kehadiran diri anda dengan cara menyentuh klien atau memposisikan diri di depan klien.
  2. Usahakan menggunakan bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan perlahan untuk memudahkan klien membaca gerak bibir anda.
  3. Usahakan berbicara dengan posisi tepat di depan klien dan pertahankan sikap tubuh dan mimik wajah yang lazim.
  4. Jangan melakukan pembicaraan ketika anda sedang mengunyah sesuatu misalnya makanan atau permen karet.
  5. Gunakan bahasa pantomim bila memungkinkan dengan gerakan sederhana dan perlahan.
  6. Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila anda bisa dan diperlukan.
  7. Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, cobalah sampaikan pesan dalam bentuk tulisan atau gambar (simbol)

Caring Concept

Caring Concept

CARING CONSEPT
Oleh
Vendi Eko Kurniawan
Caring concept
Caring….
Berasal dari kata “care” yang berarti keperawatan atau perhatian.
Sedangkan caring berarti mengurus

Komponen caring
*    Kesiapan membantu

*    Penjelasan dan kemudahan

*    Kenyamanan & tindakan antisipasi
Curing….
Pendekatan melalui medikamentosa atau pengobatan dengan tujuan pemulian pada keadaan normal ( tidak sakit, tidak cacat atau tidak mati ).
*            Bebrapa tokoh keperawatan seperti Watson ( 1979 ), Leininger ( 1984 ), benner ( 1989 ) menempatkan “ caring “ sebagai dasar praktek keperawatan.
*            Diperkirakan ¾ pelayanan kesehatan adalah caring & ¼ adalah curing.
*            Oleh karena itu terdapat perbedaan antara curing & caring dalam proses keperawatan walaupun dalam penerapannya saling berdampingan.

Caring Menurut Beberapa Tokoh Keperawatan
Jean watson
*             Watson merupakan penggagas teori yang banyak mempengaruhi pendekatan keperawatan & meletakkan dasar humanisme pada keseluruh aspek kajian keperawatan.

*             Konsep yang dikemukakan adalah esensi manusia dg keutuhan & sifat – sifat kemanusiannya & “ esensi caring “ menjadi pondasi perawat dalam memperlakukan manusia ( pasien / klien ) & dirinya sendiri.

10 caratif faktor yg membentuk perilaku caring
•                     Human altruistik ( mengutamakan nilai – nilai kemanusiaan ) 
•                     Menanamkan kepercayaan & harapan
•                     Mengembangkan kepekaan terhadap diri sendiri & orang lain
•                     Pengembangan bantuan & hubungan saling percaya
•                     Meningkatkan & menerima ungkapan perasaan yg positif & negatif
•                Sistematis dalam metode pemecahan masalah,
•                Pengembangan pendidikan & pengetahuan internasional,
•                Meningkatkan dukungan, perlindungan mental, fisik, sosial budaya & lingkungan spiritual
•                Senang membantu kebutuhan manusia
Jean watson berpendapat bahwa membuat landasan caring sebagai fokus sentral dari praktek keperawatan memandang  4 konsep utama, yaitu ;

•                Manusia

Seseorang yg dihargai baik secara fisik, diawasi, terhormat, dipelihara, dipahami & dibantu di dalam suatu pandangan fisiologis seseorang sebagai diri integrasi penuh & fungsional. Manusia dipandang sebagai seseorang yg lebih & berbeda dg orang lain.
2. Kesehatan

 Jean watson percaya bahwa ada faktor yg diperlukan untuk mencapai definisi kesehatan menurut WHO. Watson menambahkan 3 unsur lain antara lain ;
Ø Mencapai tingkat yg lebih tinggi dari biopsikososial,
Ø mempertahankan fungsi adaptif maintenance secara umum,
Ø Tidak adanya penyakit.
3. Lingkungan sosial

Memberikan pengaruh secara terbuka terhadap manusia yg akan mencapai keselarasan, sikap caring tidak diturunkan dari generasi ke generasi tetapi di tularkan melalui budaya profesi sebagai jalan atau cara yg unik terhadap lingkungannya.

4. Ilmu keperawatan

Ilmu keperawatan sangat erat kaitannya dengan ilmu kesehatan untuk mempromosikan layanan kesehatan, mencegah penyakit, caring terhadap sakit & penyembuhan. Fokusnya pada promosi kesehatan & penanganan terhadap penyakit.
Dorothea E. Orem

Orem mengembangkan model konsep keperawatan self care ini pada awal tahun 1971.
Model ini pada awalnya berfokus pada indivudu kemudian edisi kedua tahun 1980 dikembangkan pada keluarga, kelompok & komunitas & pada edisi ketiga sebagai lanjutan dari 3 hubungan konstruksi teori yg meliputi;

ØSelf care
ØSelf care defisit
ØTeori nursing sistem
Keyakinan orem tentang 4 konsep utama keperawatan adalah,

1. Klien
Suatu individu atau kelompok yg tidak mampu secara terus menerus mepertahankan self care untuk hidup & sehat, pemulihan dari sakit atau trauma serta efeknya.

2. Sehat
Kemampuan individu atau kelompok memenuhi tuntutan self care yg berperan untuk mempertahankan & meningkatkan integritas struktur fungsi & perkembangan.
•                Lingkungan
Tatanan keadaan fisik, sosial dimana klien tidak dapat memenuhi kebutuhan self care, serta tugas perawat untuk memberikan motivasi kepada klien dalam social lingkungan klien setempat akan tetapi tidak secara spesifik.

4.Keperawatan
Pelayanan dengan sengaja dipilih atau kegiatan untuk membantu individu maupun kelompok dalam mempertahankan self care yg mencakup kegiatan struktural, fungsi & perkembangan.
Madeleine Leininger


ü Leininger mengemukakan teorinya yg transcultural nursing, dimana mengungkapkan konsep latar belakang konsep latar belakang budaya sebagai aspek yg sangat berpengaruh terhadap perilaku sehat sakit seseorang
ü  intervensi keperawatannya adalah pandangan & latar belakang budaya klien sebagai pertimbangan keperawatan.

üLeininger telah mengembangkan konsep “ etnocaring “ yg artinya bahwa percaya terhadap unsur dari asuhan keperawatan dg menyampaikan ASKEP secara efektif yg harus bisa menterjemahkan dari sudut pandang profesionalisme perawat.
Gibson…
ü caring dalam asuhan keperawatan merupakan bagian dari terbentuknya kinerja perawat dalam merawat klien.

üSecara teoritis ada tiga kelompok variabel yg mempengaruhi kinerja tenaga kesehatannya diantaranya variabel individu, organisasi, psikologis.
Perawat dalam melaksanakan konsep caring harus menggunakan 3 pendekatan antara lain;

•                Pendekatan individu
Melalui peningkatan pengetahuan & ketrampilan.

2. Pendekatan organisasi
Dilakukan melalui perencanaan, pengembangan yang terkait dengan keputusan kinerja serta adanya efektifitas kepemimpinan dalam keperawatan.




3. Pendekatan psikologi
Dapat ditunjang dengan kepribadian yg care & rasa kasih sayang.

Proses caring
Adalah…
Sebuah proses keperawatan yg sistematis yg dilakukan oleh perawat kepada klien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dg melakukan pengkajian, menentukan diagnosa, merencanakan tindakan, melaksanakan & mengevaluasi hasil.
Perilaku caring perawat & tingkat kepuasan klien diidentifikasikan dg instrumen yg memiliki “komponen caring” yaitu,

•                Kesiapan membantu
•                Penjelasan & kemudahan
•                Kenyamanan
•                Tindakan antisipasi
•                Membina hubungan saling percaya
•                Pemantauan & pengawasan
Ciri – Ciri Caring
•                    Tanggung jawab
•                    Ikhlas
•                    Rasa iba
•                    Perhatian
•                   Empati
•                   Fasilitasi
•                   Perhatian
•                   dukungan
Ciri – ciri caring…..

10. Melibatkan
11. Kerjasama
12. Bertindak dalam pmeliharaan kesehatan
13. Tingkah laku membantu
14. Cinta & kepercayaan
15. Pengasuhan
16. Bantuan atau pertolongan
17. Kelembutan hati.
 

Link Kesehatan Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger