Showing posts with label askep gerontik. Show all posts
Showing posts with label askep gerontik. Show all posts

Askep Pada Pasien Menjelang Ajal

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN MENJELANG AJAL

            Seorang perawatan professional dalam merawat lanjut usia yang tidak ada harapan mempunyai ketrampilan yang multi komplek. sesuai dengan peran yang dimiliki, perawatan harus mampu memberikan pelayanan keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien lanjut usia dan harus menyelami perasaan-perasaan hidup dan mati.
            Dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia yang sedang menghadapi sakarotul maut tidaklah selamanya muda, klien lanjut usia akan memberikan reaksi-reaksi  yang berbeda –beda, bergantung kepada kepribadian dan cara klien lanjut usia menghadapi hidup. tetapi bagaimanapun keadaan, situasi dan kondisinya perawat harus dapat menguasai keadaan terutama terhadapkeluarga klien lanjut usia. Biasanya, anggota keluarga dalam keadaan krisis ini memerlukan perhatian perawatan karena kematian pada seseorang dapat dating dengan berbagai cara, dapat terjadi secara tiba-tiba dan dapat pula berlangsung berhari-hari. kadabg –kadang sebelum ajal tiba klien lanjut usia ke hilangan kesadarannya terlebih dahulu.
Terminologi
1. Pengertian sakit gawat
         Satuan keadaan sakit yang menurut  akal sehat klien lanjut usia itu tidak dapat lagi atau tiada harapan lagi untuk sembuh.
2. Pengertian kematian/mati
         Seseorang yang dianggap sudah mati ialah ia tidak lagi mempunyai denyut nadi, tidak bernafas selama beberapa menit dan ketiadaan segala refleks, serta ketiadaan kegiatan otak.
Sebab-sebab kematian
1. Penyakit
Ø  Keganasan, misalnya:
·   Carnisoma (C)
·   Carnisoma Hati
·   Carnisoma Paru
·   Carnisoma Mammae
Ø  Penyakit kronis,misalnya :
·   CVD (Cerebro Vasculair Diseases)
·   CRF (Chronic Renal Failure = Gangguan Ginjal
·   DM Gangguan Edokrin
·   MCI (Myocard Infarc)= Gangguan Kadiovaskuler
·   COPDM (Chronic Obstruction Pulmo Diesases)
2. Kecelakaan, misalnya : Epidurat Haematoma
 Ciri-ciri/tanda-tanda pada klien lanjut usia menjelang kematian
  1. Gerakan dan penginderaan menghilang secara berangsur-angsur. biasanya dimulai pada anggota badan, khususnya kaki dan ujung kaki.
  2. Gerakan peristaltic usus menurun.
  3. Tubuh klien lanjut usia tampak mengembang.
  4. badan dingin dan lembab terutama pada kaki, tangan, dan ujung hidungnya.
  5. kulit nampak pucat, berwarna kebiru-biruan/kelabu.
  6. denyut nadi mulai tidak teratur.
  7. nafas dengkur berbunyi keras (stridor) yang disebabkan oleh adanya lender pada saluran pernafasan yang tidak dapat dikeluarkan oleh klien lanjut usia.
  8. tekanna darahnya menurun.
  9. terjadi gangguan kesadaran (ingatan menjadi kabur).
Tanda-tanda kematian
  1. Pupil (bola matanya) tetap membesar atau melebar dan tidak berubah-ubah.
  2. Hilangnya semua refleks dan ketiadaan kegiatan otak yang tampak jelas dalam hasil pemeiksaan EEG yang menunjukkan mendatar dalam waktu 24 jam.
Tahap-tahap menuju kematian
            Tahap –tahap untuk itu tidak selamanya berurutan secara tetap tetapi dapat saling tindih kadang-kadang seorang klien lanjut usia melalui satu tahap tertentu untuk kemudian kembali lagi ke tahap itu. Lamanya setiap dapat bervariasi mulai dari beberapa jam sampai beberapa bulan, Aapbila suatu tahap tertentu berlangsung sangat singkat, bisa timbul kesan seolah-olah klien lanjut usia melompati satu tahap jika perawat memperhatikan secara seksama dan cermat.
  1. Tahap pertama (tahap penolakan)
Tahap ini adalah kejutan dan penolakan. Biasanya sikap itu ditandai dengan komentar : Saya? tidak mungkin. selama tahap ini klien lanjut usia sesungguhnya mengatakan bahwa maut menimpa semua orang kecuali dia. klien lanjut usia biasanya terpengaruh oleh penolaknnya sehingga ia tidak memperhatikan fakta-fakta yang mugkin sedang dijelaskan kepadanya oleh perawat. ia malahan dapat menekan apa yang telah ia dengar atau mungkin akan minta pertolongan dari berbagai macam sumber profesional dan non professional dalam upaya melarikan diri dari kenyataan bahwa maut sudah ada di ambang pintu.
  1. Tahap kedua (tahap marah)
Tahap ini ditandai oleh rasa amarah dan emosi yang tidak terkendalikan. klien lanjut usia itu berkata : Mengapa saya ? seringkali klin lanjut usia akan selalu mencela setiap orang dalam segala hal. ia mudah marah terhadap perawat dan petugas –petugas kesehatan lainnya terhadap apa saja yang mereka lakukan. pada tahap ini bagi klin lanjut usia lebih merupakan hikmah daripada kutukan . kemarahan di sini merupakan mekanisme pertahanan diri klin lanjut usia . akan tetapi, kemarahan yang sesungguhnya tertuju kepada kesehatan dan kehidupan. Pada saat ini perawat kesehatan harus hati-hati dalam memberikan penilaian dalam mengenali kemarahan dan emosi yang tak terkendalikan sebagai reaksi uyang terhadap kematian yang perlu diungkapkan.
  1. Tahap ketiga (tahap tawar-menawar)
Pada tahap ini klien lanjut usia pada hakekatnya berkata: ya. benar, Aku, tetapi,… Kemaraahan biasanya mereda dank lien lanjut usia dapat menimbulkan kesana sudah dapat menerima apa yang sedang terjadi dengan sendirinya . akan tetapi, pada tahap tawar-menawar inilah banyak orang cenderung untuk menyelesaikan urusan rumah tangga mereka sebelum maut tiba, dan akan menyiapkan hal-hal seperti membuat surat dan mempersiapkan jaminan hidup bagi orang –orang tercinta yang ditinggalkan.
            selam tawar-menawar segala permohonan yang dikemukakan hendaknya dapat dipenuhi karena merupakan bagian dari urusan-urusan yang belum selesai dan harus dibereskan sebelum mati. misalnya klien lanjut usia mempunyai satu permintaan terakhir untuk melihat pertandingan olahraga , mengunjungi seorang kerabat, melihat cucu terkecuali, pergi makan di restorant, dan sebagainya. perawat dianjurkan memenuhi permohonan itu  karena tawar menawae membantu klien lanjut usia memasuki tahap-tahap berikutnya.
  1. Tahap keempat (tahap sedih)
Tahap ini klien lanjut usia pada hakekatnya berkata : “ya, benar aku”, ini biasanya merupakan saat-saat yang sedih, karena klien lanjut usia sedang dalam suasana berkabung karena di masa lampau ia sudah kehilangan orang yang dicintainya dan sekarang ia akan kehilangan nyawanya sendiri ,bersama dengan itu harus harus meninggalkan semua hal yang menyenangkan yang telah dinikmatinya . selama tahap ini klien lanjut usia cenderung untuk tidak banyak bicara dan sering menangis. saatnya bagi perawat untuk duduk dengan tenang di samping klien lanjut usia yang sedang melalui masa sedihnya sebelum mati.
  1. Tahap kelima (tahap akhir/tahap menerima)
tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian. Menjelang saat ini klien Lanjut Usia telah membereskan urusan-urusan yang belum selesai dan mungkin tidak ingin berbicara lagi oleh karena ia sudah menyatakan segala sesuatunya. tawar-menawar sudah lewat dan tibalah saat kedamaian dan ketenanagan. seseorang mungkin saja berada lama sekali dalam tahap menerima tetapi bukanlah tahap pasrah yang berarti kelelahan. Dengan kata lain, pasrah kepada maut tidak berarti menerima maut.

Pengaruh kematian
  1. Pengaruh kematian terhadap keluarga klien lanjut usia
Ø  Bersikap kritis terhadap perawatan
Ø  Keluarga dapat menerima keadaan keluarganya
Ø  Terputusnya komunikasi dengan orang menjelang maut
Ø  Penyesalan keluarga dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak dapat mengatasi rasa
Ø  Pengalihan tanggung jawab dan beban ekonomi
Ø  keluarga menolak diaknosa, penolakan tersebut dapat memperbesar beban emosi keluarga.
Ø  Mempersoalkan kemampuan tim kesehatan
  1. Pengaruh kematian terhadap tetangga/teman
Ø  Simpati dan dukungan moril
Ø  Meremehkan / mencela kemampuan tim kesehatan
Pengertian saat kematian
Satuan proses berlanjut kematian, meliputi 5 tahap.
(LIHAT TAHAP-TAHAP KEMATIAN DI ATAS)
Pengertian umum ,tujuan dan tindakan
  1. Kebutuhan –kebutuhan jasmaniah
Untuk mengambarkan gejala-gejala fisik serta mengatasinya. kemampuan terhadap rasa sakit itu berbeda pada setiap orang. tindakan –tindakan  yang memungkinkan rasa nyaman bagi klien lanjut usia ( misalnya sering mengubah posisi tidur, perawatan fisik dan sebagainya).
  1. Kebutuhan – kebutuhan emosi
Untuk  mengambarkan ungkapan sikap dan perasaan klien lanjut usia dalam menghadapi kematian.
Ø  Mungkin klien lanjut usia mengalami ketakutan yang hebat (ketakutan yang timbul akibat menyadari bahwa dirinya tak mampu mencegah kematian)
Ø  Mengkaji hal –hal yang diinginkan penderita selama mendampinginya. Misalnya lanjut usia ingin memperbincangkan tentang kehidupan di masa lalu dan kemudian hari, bila pembicaraan tersebut berkenan, luangkan waktu sejenak, ingat bahwa tidak semua orang senang membicarakan tentang kematian. Apabila anda merasa tidak dapat membicarakan hal tersebut dan yang disenangi oleh lanjut usia .
Ø  Mengkaji pengaruh kebudayaan atau agama terhadap klien lanjut usia.
Pertimbangan khusus dalam p[erawatan, tujuan, dan tindakan –tindakan :
1. Tahap I penolakan dan rasa kesendirian
      Untuk mengenal atau mengetahui bahwa proses ini umumnya kematiannya terjadi karena menyadari akan datangnya kematian atau ancaman maut.
Ø  Berikan kesempatan klin lanjut usia mengunakan caranya sendiri dalam menghadapi kematian sejauh tindakan merusak.
Ø  Memfasilitasi klien lanjut usia dalam menghadapi kematian, luangkan waktu setidak-tidanya 10 menit sehari, baik dengan bercakap-cakap ataupun sekedar bersamanya.


2. Tahap II kemarahan
    Untuk mengenal atau meamahami tingkah laku serta tanda-tandanya.
Ø  Berikan kesempatan klien lanjut usia mengungkapan kemarahannya dengan kata-kata.
Ø  Ingatlah, bahwa dalam benaknya bergrjolak pertanyaan mengapa hal ini terjadi pada diriku ?”
Ø  Sering kali perasaan ini dialihkan kepada orang lain atau anda sebagai cara klien lanjut usia bertingkah laku.
3.      Tahap III tawar menawar
Mengambarkan proses seseorang yang berusaha menawarkan waktu.
Ø  Klien lnjut usia akan mempengaruhi unjkapan-ungkapan , seperti seandainya saya………….
Ø  Berikan kepa klien lanjut usia menghadapi kematian dengan tawar menawar.
Ø  Tabyakan kepada klien lanjut usia kepentingan-lepentingan apakah yang masih ia inginkan. Dengan cara demikian dapat menunjukkan kemampuan perawatan untuk mendengarkan keluh kesa perawatannya.
4. Tahap IV depresi
Untuk memahami bahwa tidak lam lagi lanjut usia tal mungkin lagi menolak lagi kematian yang tak dapat dihindarkan itu, dan kini kesedihan akan kematian ini sudah membayanginya.
Ø  Jangan menolong menyenangkan klien lanjut usia ingatlah bahwa tindakan ini sebenarnya hanyalah memenuhi kebutuhan petugas, jangan takut menyaksikan klien lanjut usia atau keluarganya menangis. hal ini merupakan ungkapan  pengekspresian kesedihannya. Anda boleh saja ikut berduka cita.
Ø  “Apakah saya akan mati?” Sebab sebetulnya pertanyaan klien lanjut usia tersebut hanyalah sekedar mengisi dan menghabiskan waktu untuk memperbincangkan sesuatu, ia sebenarnya sudah tahu jawabannya. Apakah anda akan meninggal dunia?
5. Tahap V
      Untuk membedakan antara sikap menerima kematian dan penyerahan terhadap   kematian yang akan terjadi.
Sikap menerima : klien lanjut usia telah menerima, dapat mengatakan bahwa kematian akan tiba dan ia tak boleh menolak..
Sikap menyerah : Sebenernya klien lanjut usia tidak menghendaki kematian ini terjadi. jadi klien lanjut usia tidak merasa tenang dan damai.
Ø  Luangkan waktu untuk klien lanjut usia (mugkin beberapa hari dalam sekali). setiap keluarga akan berbeda dengan sikap klien lanjut usia.Oleh karena itu, sedia kan waktu mendiskusikan perasaan mereka.
Ø  Berikan kesempatan klien lanjut usia mengarahkan perhatian sebanyak mungkin. Tindakan ini akan memberikan ketenangan dan perasaan aman.
HAK-HAK ASASI PASIEN YANG MENJELANH AJAL (MENINGGAL)
  1. Berhak diperlakukan sebagai manusia yang hidup sampai mati.
  2. Berhak untuk merasa punya harapan, meskipun fokusnya dapat saja berubah-ubah.
  3. Berhak dirawat oleh mereka yang dapat menghidupkan terus harapan itu, walupun dapt berubah-ubah.
  4. Berhak untuk merasakan perasaan dan emosi mengenai kematian yang sudah dekat dengan cara sendiri.
  5. Berhak untuk berpatisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai perawatannya.
  6. Berhak untuk mengharapakan akan terus mendapat perhatian medis dan perawatan walaupun tujuan penyembuhan harus diubah menjadi tujuan memberikan rasa nyaman.
  7. Berhak unutu tidak mati dalam kesepian.
  8. Berhak untu bebas dalam rasa nyeri.
  9. Berhat untuk memperoleh jawaban yang jujur atas pertanyaan-pertanyaan.
  10. Berhak untuk tidak tertipu.
  11. Berhak untu mendapatkan bantuan dari dan untuk keluarganya dalam menerima kematian.
  12. Berhak untuk mati dengan benar dan terhormat.
  13. Berhak untuk mempertahankan individualitas dan tidak dihakimi untuk keputusan –keputusan yang mungkin saja bertentrangan dengan orang lain.
  14. Membicarakan dan memperluas pengalaman-pengalaman keagamaan dan kerohaniaan.
  15. Behak untuk mengharapakan bahwa kesucian tubuh manusia akan dihormati  sesudah mati.

Daftar pustaka:
NUGROHO, Wahjudi Perawatan lanjut usia/ Wahjudi Nugroho; editor, Silvana Evi Linda; Desain cover, Yulli M. – Jakarta : EGC, 1995
NUGROHO, Wahjudi Perawatan lanjut usia/ Wahjudi Nugroho; editor, Silvana Evi Linda; Desain cover, Yulli M. – Jakarta : EGC, 2000

Perawatan Kelompok Khusus

A. PERAWATAN KELOMPOK KHUSUS


1. Definisi

  • Kelompok khusus
Adalah sekelompok masyarakat atau individu yang karena keadaan fisik, mental maupun sosialnya budaya dan ekonominya perlu mendapatkan bantuan, bimbingan dan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan, karena ketidakmampuan dan ketidkatahuan merekan dalam memelihara kesehatan dan keperawatan terhadap dirinya sendiri.
  • Perawatan kelompok khusus
Adalah suatu upaya dibidang kesehatan masyarakat yang ditujukan kepada kelompok-kelompok individu yang mempunyai kesamaan jenis kelamin, umur, permasalahan kesehatan dan kesehatan serta rawan terhadap masalah tersebut, yang dilaksanakan secara terorganisasi dengan tujuan meningkatkan kemampuan kelompok dan derajat kesehatannya, mengutamakan upaya promotif dan preventif dengan tidak elupakan upaya kuratif dan rehabilitative, yang ditujukan kepada mereka yang tinggaldipanti dan kepada kelompok-kelompok yang ada di masyarakat, diberikan oleh tenaga keperawatan dengan pendekatan pemecahan masalah melalui proses keperawatan.


2. Tujuan

· Tujuan umum
Adalah untuk meningkatkan kemampuan dan derajat kesehatan kelompok dapat menolong diri mereka sendiri (self care) dan tidak tergantung kepada pihak lain.

· Tujuan khusus
Secara khusus tujuan asuhan keperawatan kelompok khusus adalah agar kelompok khusus dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam hal:
Mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan kelompok khusus sesuai dengan macam, jenis, dan 

tipe kelompok
Menyusun perencanaan asuhan keperawatan atau kesehatan yang mereka hadapi berdasarkan permasalahan yang terdapat pada kelompok
Penanggulangan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi berdasarkan rencana yang telah mereka susun bersama
Meningkatkan kemampuan kelompok khusus dalam memelihara kesehatan mereka sendiri
Mengurangi ketergantungan kelompok khusus dari pihak lain dalam pemeliharaan dan perawatan diri sendiri
Meningkatkan produktivitas kelompok khusus untuk lebih banyak berbuat dalam rangka meningkatkan kemampuan diri mereka sendiri
Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan dan keperawatan dalam menunjang fungsi puskesmas dalam rangka pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat.


3. Sasaran

Dalam perawatan kesehatan kelompok khusus, ada dua sasaran pokok pembinaan, yaitu melalui institusi-institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap kelompok khusus dan pelayanan kelompok khusus yang ada dimasyarakat yang telah diorganisir secara baik atau melalui posyandu yang ditujukan untuk ibu hamil, bayi dan anak balita atau terhadap kelompok- kelompok khusus dengan ciri khas tertentu misal kelompok usila, kelompok penderita berpenyakit kusta dan sebagainya.

4. Pelayanan kelompok khusus di Institusi

Pelayanan terhadap lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang menyelenggarakan pemeliharaan dan pembinaan kelompok- kelompok khusus tertentu, diantaranya:

· Panti Werdha
· Panti Asuhan
· Pusat Rehabilitas Anak Cacat (fisik, mental, sosial)
· Penitipan Balita

Yang menjadi sasaran pembinaan dan pelayanan kelompok khusus di Institusi adalah meliputi:
· Penghuni panti
· Petugas panti
· Lingkungan panti
· Penghuni panti


Penghuni panti


Penghuni panti merupakan prioritas pertama dalam memberikan pelayanan dan asuhan perawatan kelompok khusus di Institusi, karena mereka yang rawan terhadap masalah kesehatan, dan umumnya merekalah yang bermasalah apakah masalah tersebut dapat mengancam kesehatan dan kehidupan mereka secara individu maupun secara kelompok. Oleh karena itu penanganan kelompok ini harus mendapat perhatian sungguh-sungguh oleh tenaga keperawatan. Dalam mengatasi masalah kelompok ini diperlukan kolaborasi dengan profesi kesehatan lain maupun dengan petugas.
· Petugas panti
Petugas panti

Petugas panti adalah orang yang setiap hari berhubungan langsung dengan pelayanan penghuni panti dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi. Dan merekalah yang paling mengetahui permasalahan setiap anggota panti yang mendapat perawatan dan pelayanan dipanti tersebut. Oleh karena itu sudah seharusnya pengetahuan dan ketrampilan petugas panti terus ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan. Tugas dan tanggung jawab perawat kesehatan adalah bagaimana mengadakan kolaborasi dan alih teknologi yang mungkin dilakukan dalam bidang keperawatan dan kesehatan. Dengan kata lain adanya kader-kader kesehatan yang telah dididik dan dilatih oleh petugas kesehatan atau puskesmas sebagai penanggung jawab masalah kesehatan di wilayah kerjanya. Hal ini penting dilakukan karena perawat kesehatan masyarakat tidak akan mampu melaksanakan pelayanan kesehatan dan keperawatan secara terus-menerus purna waktu.

Dengan adanya upaya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petugas panti melalui pendidikan dan pelatihan maka diharapkan setiap masalah yang timbul dari anggota panti dapat diatasi oleh petugas panti, dan bila tidak dapat diatasi baru dirujuk pukesmas atau institusi pelayanan kesehatan lainnya. Oleh karena itu kerjsama lintas sektoral antara puskesmas dengan institusi yang menyelenggarakan berbagai upaya pelayanan kelompok khusus sangat diperlukan.


· Lingkungan panti
Lingkungan panti

Lingkungan panti juga memerlukan perhatian khusus dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dan keperawatan di intitkusi, oleh lingkungan merupakan salah satu mata rantai penyebaran penyakit. Yang berkaitan dengan masalah kesehatan lingkungan tugas perawat kesehatan terbatas kepada peyuluhan kesehatan yang berkaitan dengan dampak lingkungan terhadap kesehatan penghuni dan petugas panti. Hal ini penting berkaitan dengan penanaman perilaku sehat penghuni dan petugas panti.

5. Pelayanan kelompok khusus di masyarakat

Pelayanan kelompok khusus di masyarakat, dilakukan melalui kelompok-kelompok yang terorganisir dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat, melalui pembentukan kader kesehatan diantara kelompok tersebut, yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan oleh puskesmas, yang telah berjalan dewasa ini kita kenal dengan sebutan Dasa Wisma, KPKIA (Kelompok Persepuluhan Kesehatan Ibu dan Anak). Disamping itu lahan pembinaan kelompok-kelompok khusus di masyarakat dapat dilakukan melalui Posyandu terhadap kelompok ibu hamil, bayi dan anak balita, dan kelompok- kelompok lainnya yang mungkin dapat dilakukan.

6. Klasifikasi
Kelompok khusus yang ada dimasyarakat dan diinstitusi dapat diklasifikasikan berdasarkan pemasalahan dan kebutuhan yang mereka hadapi, diantaranya adalah:

Kelompok Khusus Dengan Kebutuhan Khusus Yang Memerlukan Pengawasan Akibat Pertumbuhan Dan Perkembangannya.
· Kelompok ibu hamil
· Kelompok ibu bersalin
· Kelompok ibu nifas
· Kelompok bayi dan anak balita
· Kelompok anak usia sekolah
· Kelompok usia lanjut
 
Kelompok Khusus Dengan Kebutuhan Khusus Yang Memerlukan Pengawasan dan Bimbingan, diantaranya adalah:

· Penderita Penyakit Menular
Ø Kelompok Penderita Penyakit Kusta
Ø Kelompok Penderita Penyakit TBC
Ø Kelompok Penderita Penyakit Aids
Ø Kelompok Penderita Penyakit Kelamin (GO, Sypilis)
Ø Dan sebagainya

· Penderita Penyakit Tidak Menular
Ø Kelompok Penderita Penyakit Diabetus Militus
Ø Kelompok Penderita Penyakit Jantung
Ø Kelompok Penderita Penyakit Stroke

· Kelompok Cacat yang Memerlukan Rehabilitas
Ø Kelompok Cacat fisik
Ø Kelompok Cacat mental
Ø Kelompok Cacat sosial

· Kelompok Khusus yang Mempunyai Resiko Terserang Penyakit
Ø Kelompok Wanita Tuna Susila
Ø Kelompok Penyalahgunaan Obat dan Narkotika
Ø Kelompok- kelompok Pekerja tertentu
 
. Ruang lingkup kegiatan
Kegiatan perawatan kelompok khusus mencakup upaya-upaya promotif, kuratif, rehabilitative dan resosialitatif, melalui kegiatan-kegiatan yang terorganisasi, sebagi berikut :
· Pelayanan kesehatan dan keperawatan.
· Penyuluhan kesehatan.
· Bimbingan dan pemecahan masalah terhadap anggota kelompok, kader kesehatan dan petugas panti.
· Penemuan kasus secara dini.
· Melakukan rujukan medik dan kesehatan.
· Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan masyarakat, kader, dan petugas panti atau pusat-pusat rehabilitasi kelompok khusus.
· Alih teknologi dalam bidang kesehatan dan keperawatan kepada petugas panti kadee kesehatan.

8. Prinsip dasar
Yang menjadi prinsip dasar dalam perawatan kelompok khusus adalah :
· Meningkatkan kemampuan dan kemandirian kelompok dalam meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
· Menekankan kepada upaya preventif dan promotif dengan tidak melupakan upay kuratif dan rehabilitative.
· Pendekatan yang menyeluruh menggunakan proses keperawatan secara konsisten dan berkesinambungan.
· Melibatjan peran serta aktif petugas panti,kader kesehatan dan kelompok sebagai subyek maupun obyek yang sama.
· Dilakukan di institusi pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan kelompok husus di masyarakat terhadap kelompok khusus yangmempunyai masalah yang sama.
· Ditekankan kepada pembinaan perilaku penghuni pannti, petugas panti, lingkungan panti bagi yang diinstitusi dan masyarakat yang mempunyai masalah yang sama kea rah perilaku sehat.
 
9. Tahap-tahap perawatan kelompok khusus
Ø .Tahap persiapan
· Mengidentifikasi jumlah kelompok yang ada dimasyarakat dan jumlah panti atau pusat-pusat rehabilitative yang ada disuatu wilayah binaan.
· Mengadakan pendekatan sebagai penjagaan awal pembinaan kelompok khusus terhadap institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap kelompok khusus dan kelompok yang ada di masyarakat.
· Identifikasi masalah kelompok khusus di masyarakat dan dip anti / institusi, melalui pengumpulan data.
· Menganalisa data kelompok khusus di masyarakat dan di intitusi.
· Merumuskan masalah dan prioritas masalah kesehatan dan keperawatan kelompok khusus di masyarakat dan di institusi.
· Mulai dari tahap mengidentifikasi masalah, analisa data, perumusan masalah dan prioritas masalah kesehatan.keperawatan kelompok khusus melibatkan kader kesehatan dan petugas panti.
 
Ø Tahap perencanaa
· Menyusun perencanaan penanggungan masalah kesehatan keperawatan bersama petugas panti dan kader kesehatan :
- Jadwal kegiatan (tujuan, sasaran, jenis pelayanan, biaya, criteria hasil)
- Jadwal kunjungan
- Tenaga pelaksana pengorganisasian kegiatan.
- Dan sebagainya.
 
Ø Tahap pelaksanaan

Pelaksana didasarkan atas rencana kerja yang telah di sepakati bersama yang disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Pelaksanaan kegiatan dapat berupa :
· Pendidikan dan pelatihan kader dan petugas panti.
· Pelayanan kesehatan dan keperawatan.
· Penyuluhan kesehatan.
· Immunisasi.
· Penemuan kasus dini.
· Rujukan dianggap perlu.
· Pencatatan dan pelaporan kegiatan.
 
Ø Penilaian
Penilaian atas keberhasilan kegiatan di dasarkan atas criteria yang telah disusun. Penilaian dapat dilakukan selama kegiatan berlangsung dan setelah kegiatan dilaksanakan secara keseluruhan. Apakah itu penilaian terhadap program jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.


10. Proses keperawatn kelompok khusus

Pada dasarnya langkah-langkah proses keperawatan kelompok khuus sama halnya dengan langkah-langkah proses keperawatan tingkat individu, keluarga maupun masyarakat, yang berbeda hanya sasarannya saja. Sedangkan permasalhan yang timbul adalah permasalahan dilihat dari segi kelompok, tetapi bila menyangkut pemasalahan gangguan system tubuh penangannya secara individu adalah sama dengan gangguan-gangguan system lainnya. Disamping itu yang perlu dikaji secara mendalam adlah latar belakang yang mendorong timbulnya masalah pada kelompok tersebut. Oleh karena itu pengkajiannya menekankan pada aspek kebiasaan, adat istiadat dan budaya, pendidikan sosial ekonomi, kesehatan perseorangan, lingkungan, perilaku dan pandangannya terhadap kesehatan.

a. Pengkajian

Pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan langkah awal untuk menentukan masalah dan kebutuhan kelompok akan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan.Oleh karena itu, untuk mengkaji permasalahan kelompok diperlukan data-data sebagai berikut:

Identitas kelompok yang mencakup:
ü Besar dan kecilnya kelompok
ü Latar belakang pendidikan
ü Tingkat social ekonomi
ü Kebiasaan
ü Adat istiadat
ü Pekerjaan
ü Agama yang dianut
ü Kepercayaan
ü Lokasi tempat tinggal
 
Masalah kesehatan yang mencakup:
ü Masalah kesehatan yang sering terjadi
ü Besarnya anggota kelompok yang mempunyai masalah
ü Keadaan kesehatan anggota kelompok umumnya
ü Sifat masalah pada kelompok, apakah yang mengancam kesehatan atau telah mengancam kehidupan

Pemanfaatan fasilitas kesehatan dalam pemeriksaan kesehatan, diantaranya:
ü Puskesmas
ü Posyandu
ü Polindes
ü Pos Obat Desa

Keikutsertaan dalam upaya kesehatan, diantaranya:
ü Sebagai kader kesehatan
ü Dana Upaya keshatan masyarakat
ü Dasa Wisma
ü KPKIA

Status Kesehatan Kelompok yang meliputi:
ü Penyakit yang pernah diderita (akut, subakut, kronis dan menular)
ü Keadaan gizi kelompok umumnya (anemia, marasmus, kwasiokor)
ü Imunisasi (dasar-ulangan, lengkap tidak lengkap)
ü Kesehatan ibu dan anak (kehamilan, persalinan, nifas, perinatal, neonatus, bayi dan balita)
ü Keluarga Berencana (akseptor-non akseptor)
ü Keadaan hygiene personal anggota kelompok

Kondisi sanitasi lingkungan tempat tinggal anggota kelompok meliputi:
ü Perumahan (permanent, semi permanent, sementara, ventilasi, penerangan, kebersihan)
ü Sumber air minum
ü Pembuangan air limbah
ü Pembuangan sampah
ü Tempat pembuangan tinja
 
b. Analisa data
Setelah data dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisa untuk melihat kesenjangan yang terjadi dalam kelompok tersebut yang dikaitkan dengan konsep,prinsip, teori yang relevan.Sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan tentang permasalahan yang dialami kelompok serta kebutuhan –kebutuhan kelompok akan pelayanan kesehatan dan keperawatan.

c. Perumusan masalah dan prioritas
Berdasarkan analisa data kelompok dapat ditentukan permasalahan yang dialami kelompok tersebut, masalah kesehatan yang muncul biasanya tidak hanya satu masalah saja, tetapi ada beberapa masalah yang sekaligus muncul. Oleh karena itu dilakukan prioritas masalah kesehatan kelompok dengan mempertimbangkan:
ü Sifat masalah yang dihadapi kelompok
ü Tingkat bahaya yang mengancam kelompok
ü Kemungkinan masalah untuk dapat diatasi
ü Berat ringanya masalah yang dihadapi kelompok
ü Sumber daya yang tersedia dalam kelompok

d. Diagnose keperawatan kelompok

Penetapan diagnosa keperawatan kelompok, didasarkan kepada:


· Masalah kesehatan yang dijumpai pada kelompok dengan mempertimbangkan factor resiko dan potensial terjadinya masalah penyakit
· Kemampuan kelompok dalam pemecahan masalah dilihat dari segi sumber daya kelompok yang berkaitan dengan kemampuan financial pengetahuan, dukungan keluarga dari masing-masing anggota kelompok dan sebagainya.

Contoh Diagnosa Keperawatan pada Tingkat Kelompok

· Tingginya angka kesakitan anak dengan tetanus neonatorum sehubungan dengan kurangnya pengetahuan an kemampuan ibu dalam perawatan tali pusat yang ditandai dengan 5 dari 8 orang bayi usia kurang dari seminggu tali pusarnya kotor dan basah

· Potensial terjadinya peradangan payudara (mastitis) pada ibu-ibu nifas sehubungan dengan malas melakukan perawatan payudara seperti yang telah diajarkan.

e. Perencanaan asuhan keperawatan
Dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah disusun dengan melibatkan anggota kelompok yang bersangkutan rencana keperawatan kelompok mencakup:

ü Tujuan keperawatan yang ingin dicapai
ü Rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
ü Kriteria keberhasilan
 
Dalam menyusun rencana asuhan keperawatan kelompok ada beberapa hal yang penting perlu diperhatikan antara lain:
ü Keterlibatan pengurus dan anggota kelompok dalam menyusun perencanaan keperawatan
ü Keterpaduan dengan pelayanan kesehatan lainnya, baik tenaga, biaya, sarana maupun waktu
ü Kerjasama lintas program dan lintas sektoral sehingga program pelayanan bersifat menyeluruh.

f. Pelaksana
Merupakan realisasi rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan bersama dengan kelompok.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang ditujukan kepada kelompok adalah:
ü Tindakan keperawatan dapat dilaksanakan oleh tenaga keperawatan , petugas/pengurus panti atau kader kesehatan sesuai dengan kewenangan yang diberikan
ü Dilakukan dalam rangka alih teknologi dan keterampilan keperawatan
ü Di institusi lebih ditekankan kepada penghuni panti, pengelola/pengurus panti dan lingkungan panti
ü Dimasyarakat lebih ditekankan kepada anggota kelompok, kader kesehatan, pengurus kelompok dan keluarga.
ü Bila ada masalah yang tak tertanggulangidilakukan rujukan medis dan rujukan kesehatan
ü Adanya keterpaduan pelayanan dengan sector lain
ü Dicatat dalam catatan keperawatan (nursing note) yang telah ditetapkan.
 
g. Penilaian

Penilaian terhadap hasil asuhan keperawatan dan kesehatan dilakukan berdasarkan criteria yang telah ditetapkan sebelumnya dalam perencanaan melalui:
ü Membandingkan hasil tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya
ü Menilai efektivitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian, perencanaan dan pelaksanaan.


Daftar Pustaka


Departemen Kesehatan RI (1990), Perawatan Kesehatan Masyarakat, Seri A : Petunjuk Pelaksanaan Kelompok Di Puskesmas,Ditjen Binkesmas,Jakarta.

Departemen Kesehatan RI (1993), Perawatan Kesehatan Masyarakat II , Petunjuk Pembinaan Kelompok Sosial/Khusus, Jakarta.

F.J Bennet (1987), Diagnosa Komunitas dan Program kesehatan, Yayasan Essensia medika,Yogyakarta.

Freeman B Ruth (1961), Public Health Nursing Practice, WB.Sounders Co.London.

Freeman B Ruth (1981),Community Health Nursing Practice, Second Edition, WB,Saunders Co.London, Philadelphia, Sydney.

Kathelen Becman Blomquist et al (1979), Community Health Nursing Contiuning Education review, Medical Examination Publishing Garden City, New York.

Munandar soelaeman (1989), Teori Daan Konsep Ilmu Sosial, PT Eresco, Jakarta.

Soerjono Soekanto (1986), Pengantar Sosiologi Kelompok, Penerbit Remaja Karya CV, Bandung.

Solita sarwono (1993), Sosiologi Kesehatan Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya, gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Proses Keperawatan Gerontik Pada Tingkat Kelompok

PROSES KEPERAWATAN GERONTIK PADA TINGKAT KELOMPOK

       A.    KONSEP KELOMPOK
1.      Definisi
Pemgelompkokan manusia ke dalam wadah-wadah tertentu, merupakan bentuk kehidupan bersama, yang dilandasi oleh criteria tertentu seperti usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, pekerjaan dan kepentinga-kepentingan tertentu dalam bidang kesehatan atau keperawatan karena adanya kebutuhan yang sama untuk mencapai sesuatu tujuan yang diinginkan.
Soerjono Soekanto ( 1982 ), menyebutnya sebagai kelompok sosial ( social group ), yang merupakan himpunan atau kesatuan – kesatuan manusia yang hidup bersama, oleh karena adanya hubungan antara mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga satu kesadaran untuk saling tolong menolong.
2.      Proses pembentukan kelompok
Menurut Solita Sarwono, ( 1992 ), proses terbentuknya kelompok mengikuti tahap-tahap tertentu, sebagai berikut :
PROSES KELOMPOK
                   PEMBENTUKAN

PERUBAHAN                                                           PERPECAHAN

                   PENYESUAIAN

3.      Tahap pembentukan
Kelompk mengatur diri sendiri dan menetukan kedudukan tiap-tiap anggotanya, siapa yang memimpin dan siapa yang menjadi anggotanya. Setelah menjadi mapan mulailah orang menjadi lebih saling kenal mengenalakrab dan terbuka.


4.      Tahap perpecahan
Keakrapan dapat mengundang konflik dan menimbulkan masalah, karena tiap-tiap individu lebih berani mengemukakan pendapatnya secara jujur, terbuka. Sehingga akan mengundang perpecahan, karena ada diantara anggota kelompok tidak/kurang setuju dengan pendapat yang dilontarkan.
5.      Tahap penyesuaian.
Perpecahan anggota kelompok biasanya bersifat sementara, makin akrab hubungan anggota kelompok makin mudah masing-masing individu untuk menyesuaikan diri dengan sifat, kehendak, gaya dan kepribadian anggota-anggota lainnya, sehingga terjadinya perpecahan dan pertentangan dapat dibatasi dan dihindari. Dan pada tahap inilah kelompk dapat berfungsi secara efektif  dan para anggotanya mau saling membantu dan bekerjasama untuk kepentingan-kepentingan kelompok.
6.      Tahap perubahan
Nerupakan suatu hal yang lumrah dalam kehidupan kelompok terjadi perubahan karena penggantian posisi orang yang dipimpin dan yang memimpin, perubahan jumlah keanggotaan, perubahan lingkungan fisik dan aktifitas kelompok dan setiap perubahan akan menimbulkan dampak terhadap kehidupan kelompok. Setiap perybahan akan menimbulkan permasalahan dalam kelompok, sehingga memerlukan pengaturan kembali yang berkaitan dengan : struktur organisasi, prosedur kerja, kegiatan, hubungan antara tiap anggota dan sebagainya.
Selama kelompok masih ada dan berproses, siklus diatas masih akan terus berulang sampai mencapai suatu kematangan kearah kelompok yang mandiri dan mampu mengatur interaksi dan interelasi diantara sesame anggotanya dalam mencapai tujuan yang diinginkan bersama.
7.      Kepemimpinan kelompok
Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mengatur orang lain dalam bekerja sama untuk mencapai tujuanyang diinginkan. Kemampuan seseorang untuk memimpin ada kalanya merupakan sifat bawaan, karena memang telah memiliki bakat sebagai pemimpin. Tetapi kepimimpinan itu dapat dipelajari melalui berbagai latihan manajemen dan kepimpinan serta pengalaman kerja sama dengan orang lain, selain itu juga seoarang pemimpinan harus mempunya kemampuan berorganisasi.
Seorang pemimpin harus dapat mengarahkan kegiatan para anggota kelompok nya. Peran pemimpin semakin besar denganterstrukturnya kelompok tersebut dan semakin jelas tujuan kelompok yang ingin dicapai.
8.      Tugas kepemimpinan kelompok
Tugas kepemimpnan dalam kelompok, khususnya dalam upaya-upaya keperawatan kesehatan masyarakat adalah mengikutsertakan masyarakat dari tahap pengkajian masalah, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan penilaian hasil kegiatan, yang meliputi :
·         Mengatur tujuan yang ingin dicapai kelompok.
·         Menetapkan prosedur kerja.
·         Menetapkan peranan, fungsi dan tugas dan tanggung jawab dari tiap-tiap bagian.
·         Membimbing dan membantu anggota agar menjalankan kegiatan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
9.      Gaya kepemimpinan
Gaya kepemimpinan dalam kelompok dibedakan menjadi kepimpinan yang berorientasi pada tujuan atau kepada kepantingan diri sendiri. Dan kepemimpinan demokratis, yang mengutamakan kepentingan anggota kelompok. Disamping itu ada pula kepemimpinan yang bergaya santai, yaitu kepemimpinan yang bergaya santai, yaitu kepemimpinan yang tidak mementingkan pencapaian tujuan kelompok dan membiarkan anggota kelompok berproses sendiri sesuai dengan kehendak anggota kelompoknya.
10.  Hubungan pimipinan dan anggota kelompok.
Hubungan pimpinan kelompok dibedakan ada bermacam-macam. Ada pemimpin yang membuat anggoatanya menjadi tergantung, tetapi ada pula pimpin dan anggota memenciptakan hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan dan antara pimpinan dan yang dipimpin mempunyai mempunyai inisiatip untuk melaksanakan kegiatan dan tidak selalu tergantung dengan instruksi pimpinan kelompok. Tetapi ada juga pimpinan yang terlalu tergantung kepada salah seorang atau beberapa orang tertentu dalam melakukan kegiatan tertentu, sehingga bila ada halangan dari  anggota tersebut menyebabkan  kegiatan yang dilaksanakan kelompok tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, sehingga timbul kevakuman.
11.  Teori kepemimpinan
MC Gregor menggolongkan kepemimpinan berdasarkan sifat dan kepribadian sifat bawahan, yang dikenal dengan teori X dan teori Y. dalam teori X, biasanya pimpinan menganggap bahwa bawahan atau anggota-anggota, kelompoknya itu adalah orang-orang yang malas, tidak berinisiatif , tidak kreatif, dalam bekerja perlu selalu diawasi dan diancam dengan sangsi atau hukuman agar mau bekerja dengan baik. Dengan anggapan demikian maka teori X, menggunakan gaya kepimpinan yang otoriter dan memberikan instruksi dengan sangsi hukuman bila melanggar aturan.
Sedangkan teori Y menganggap bahwa semua semua orang itu tidak mau menganggur, selalu ingin melakukan sesuatu kegiatan, mengambil inisiatif untuk suatu kegiatan, mempunyai motivasi yang besar untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan pimpinan kepadanya, sehingga tidak perlu lagi diawasi. Pimpinan akan memberikan kebebasan kepada bawahan untuk menentukan sendiri apa-apa yang akan dikerjakan guna mencapai tujuan kelompok dengan mendelegasikan wewenang kepada bawahannya serta mempercayai bawahan dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan.
12.  Kepemimpinan kelompok yang efektif
Untuk mencapai kepemimpinan kelompok yang efektif, ditentukan oleh beberapa factor, yaitu :
·         Fungsi kelompok
Jika kelompok berorientasi kepada tugas untuk melaksanakan fungsinya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan,maka kepemimpinan yang otoriterlah yang lebih efektif,misalnya dalam pencapai target-target tertentu dalam pemberian immunisasi terhadap kelompok anak balita,pemakaian kontrasepsi terhadap kelompok pasangan usia subur.Dimana pimpinan kelompok dipaksakan oleh pimpinan yang lebih tinggi dala mencapai tujuan tersebut.

·         Kematangan kelompok
Kelompok yang baru terbentuk dan strukturnya masih sederhana dengan anggota kelompoknya sebagian besar masih bersifat pasif,diperlukan pimpinan yang otoriter untuk mencapai tujuan yang diinginkan kelompok.Tetapi bagi kelompok-kelompok yang sudah mapan dan dapat berfungsi dengan baik diperlukan pimpinan yang demokratik.Pengawasan ketat tidak diperlukan lagi,dan menghambat proses kerja.Sehingga pimpinan tinggal mendelegasikan wewenang kepada anggota kelompok untuk diberikan kepercayaan dalam melaksanakan tugas.
·         Kepribadian individu
Disamping yang dijelaskan dua diatas, yang ikut juga mempengaruhi efektifitas kepemimpinan kelompok adalah Type Kepribadian individu, baik pimpinan maupun anggotanya. Bila kebanyakan anggota kepribadian pasif, kurang kreatif dan berinisiatif maka kepimimpinan kelompok yang sesuai adalah kepimimpinan otoriter sdangkan anggota mempunyai inisiatif yang besar, terbuka, mempunyai keinginan yang maju, maka memerlukan pimpinan yang demokratis. Dan sebaliknya pimpinan yang berkepribadian otoriter, suka memerintah dan tidak suka dibantah sebaiknya memilih anggota yang pasif, patuh agar tidak selalu menimbulkan konflik dalam kelompok. Demikian pula halnya pimpinan yang demokratis, dapat menerima saran dan kritik bawahan, maka sebaiknya memilih orang-orang yang berinisiatif, kreatif, mempunyai visi kedepan dan ada keinginan untuk mengembangkan diri dalam mencapai tujuan-tujuan kelompok.
13.  Persyaratan kelompok
Soerjono Soekant o (1982), menetapkan beberapa persyaratan dalam kelompok sosial, meliputi :
·         Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
·         Adanya hubungan timbale balik antara anggota satu dengan anggota yang lain.
·         Terdapat suatu factor yang memiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu, sehingga hubungan diantara mereka bertambah erat, dan factor tersebut adalah :
*      Nasib yang sama
*      Kepentingan yang sama
*      Dan lain-lain
*      Berstruktur berkaedah dan mempunyai pola perilaku.
14.  Kriteria kelompok
Soerjono soekantor (1982) menyusun berbagai klasifikasi criteria/ukuran kelompok sosial dalam masyarakat sebagai berikut :
·         Besar kecilnya jumlah anggota kelompok sosial tersebut.
·         Derajat interaksi dalam kelomok sosial tersebut.
·         Kepentingan dan wilayah.
·         Berlangsungnya suatu kepentingan.
·         Kesadaran akan jenis yang sama, hubungan sasial dan tujuan.
Dengan memahami kondisi kelompok, perawat kesehatan masyarakat dalam menjalankan tugasnya dapat mengidentifikasi type-type kepemimpinan yang sesuai untuk diterapkan kedalam kelompok-kelompok biasanya dalam mengatasi berbagai macam masalah kelompok, pakah itu kelompok ibu hamil, ibu menyusui, kelompok usia lanjut, kelompok kusta, tbc, dan sebagainya. 
  

Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan RI (1990), Perawatan Kesehatan Masyarakat, Seri A : Petunjuk Pelaksanaan Kelompok Di Puskesmas,Ditjen Binkesmas,Jakarta.
Departemen Kesehatan RI (1993), Perawatan Kesehatan Masyarakat II , Petunjuk Pembinaan Kelompok Sosial/Khusus, Jakarta.
F.J Bennet (1987), Diagnosa Komunitas dan Program kesehatan, Yayasan Essensia medika,Yogyakarta.
Freeman B Ruth (1961), Public Health Nursing Practice, WB.Sounders Co.London.
Freeman B Ruth (1981),Community Health Nursing Practice, Second Edition,
 

Link Kesehatan Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger